Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Label Rekaman AS, Warner Music, Bersiap Melantai di Bursa

Penjualan Warner Music yang menanjak 50% sejak 2015 telah menciptakan waktu yang tepat bagi perusahaan musik ini melantai di pasar modal.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 07 Februari 2020  |  15:29 WIB
warner music
warner music

Bisnis.com, JAKARTA -- Warner Music Group Corp, grup rekaman di dibalik artis-artis seperti Cardi B, Ed Sheeran dan Bruno Mars, mengajukan penawaran umum perdana di bursa Amerika Serikat.

Menurut laporan Bloomberg, didukung oleh miliarder Len Blavatnik, Warner Music yang berbasis di New York mengajukan penawaran sebesar US$100 juta.

Namun angka tersebut adalah jumlah placeholder yang digunakan untuk menghitung biaya dan kemungkinan besar akan berubah. Blavatnik dan investor lain tidak membuka detil tentang dberapa banyak saham yang akan mereka jual.

"Mereka [investor] diperkirakan akan tetap mempertahankan kontrol terhadap label dan memberikan wewenang kepada Warner Music guna mengumpulkan dana untuk akuisisi dan transaksi lainnya," menurut seorang sumber yang tidak diidentifikasi, seperti dikutip melalui Bloomberg, Jumat (7/2).

Warner Music bergerak di waktu yang tepat. Pasalnya, penjualan perusahaan telah meningkat 50 persen sejak 2015.

Perusahaan melaporkan laba bersih US$258 juta pada tahun fiskal 2019 dengan pendapatan US$4,48 miliar. Apple dan Spotify menyumbang 27% dari pendapatan itu, menurut keterbukaan informasi yang dikutip Bloomberg.

"Kami beradaptasi dengan streaming lebih cepat daripada perusahaan hiburan musik besar lainnya dan, pada 2016, kai adalah perusahaan pertama yang melaporkan bahwa streaming adalah sumber terbesar dari pendapatan musik rekaman kami," tulis Warner Music.

Morgan Stanley, Credit Suisse Group AG dan Goldman Sachs Group Inc. berperan sebagai penasihat dalam IPO ini.

Penjualan musik telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir berkat pertumbuhan layanan streaming berbayar dari perusahaan seperti Spotify Technology SA dan Apple Inc. Hal itu mendorong nilai perusahaan musik dan menarik investor kembali ke industri rekaman.

Tahun lalu, Vivendi SA sepakat menjual saham minoritas di Universal Music Group, perusahaan musik terbesar di dunia, kepada kelompok yang dipimpin oleh China Tencent Holdings Ltd. Transaksi itu menjadikan valuasi Universal Music sekitar US$33,6 miliar.

Bloomberg Billionaires Index mencatat, Blavatnik, seorang Ukraina-Amerika, memiliki kekayaan bersih sekitar US$25,1 miliar.

Dia membeli Warner Music seharga US$1,3 miliar pada 2011, ketika industri musik berada pada penurunan terdalam selama 15 tahun terakhir, di mana proliferasi musik gratis dan murah di internet telah menghancurkan penjualan.

 
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Film musik
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top