Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Covid-19: Kenapa Sebagian Orang Sakit Berat dan Sebagian Tidak?

Berdasarkan studi baru dari Italia, sebanyak 43 persen orang yang terpapar virus ini tidak menunjukkan gejala.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 25 April 2020  |  17:20 WIB
Petugas medis bersiap memeriksa masyarakat di Michigan Health Professionals Covid-19 melalui fasilitas pengujian di Millennium Medical Group di Farmington Hills, Michigan, Amerika Serikat, Selasa (7/4/2020). - Bloomberg/Emily Elconin
Petugas medis bersiap memeriksa masyarakat di Michigan Health Professionals Covid-19 melalui fasilitas pengujian di Millennium Medical Group di Farmington Hills, Michigan, Amerika Serikat, Selasa (7/4/2020). - Bloomberg/Emily Elconin

Bisnis.com, JAKARTA — Sebagian pasien Covid-19 menunjukkan gejala sakit berat dan sebagian lainnya hanya flu biasa membuat virus ini menjadi penyakit yang sulit diprediksi.

Dilansir dari The Atlantic, pada awal Maret, seorang penulis berumur 37 tahun, F.T. Kola merasa demam dan seluruh badannya sakit. Setelah mengisolasi diri di rumah selama sepekan, dia direkomendasi oleh dokternya melakukan tes swab di Stanford University.

Namun, keadaannya memburuk yang ditandai dengan menggigil dan berhalusinasi. Dia berpikir ada sendok raksasa yang ingin dimasukkan ke dalam mulutnya. Setelah itu, dia dibawa ke ICU selama tiga hari.

Selama itu, dia kadang merasa sakitnya berat, tetapi terkadang tidak sama sekali. Kola keluar rumah sakit setelah dirawat dua pekan.

Berbeda lagi dengan rekannya, Karan Mahajan yang terinfeksi Covid-19 di saat yang hampir bersamaan. Namun, Mahajan hanya merasakan flu sedang yang berakhir dalam 2 pekan.

Berdasarkan studi baru dari Italia, sebanyak 43 persen orang yang terpapar virus ini tidak menunjukkan gejala.

Orang-orang itu akan menjadi sesak napas, jantung mereka berdetak kencang dan pikiran terlepas dari kenyataan. Mereka mengalami kegagalan organ dan menghabiskan berminggu-minggu di ICU, jika mereka masih bertahan hidup.

Robert Murphy, professor obat dan direktur penyakit menular Northwestern University mengatakan banyak perbedaan pada setiap orang saat terkena virus.

“Itu sangat tidak biasa. Tidak satu pun dari variabilitas ini benar-benar cocok dengan penyakit lain yang biasa kita tangani,” ujarnya.

Seperti banyak diinformasikan, golongan orang tua dan memiliki riwayat penyakit akan lebih berisiko terpapar Covid-19. “Bukan virusnya, tapi jaringannya (host),” lanjutnya.

Ternyata informasi tersebut masih jauh dari gambaran lengkap tentang siapa yang berisiko terkena penyakit yang mengancam jiwa ini.

Uji klinis telah dilakukan terhadap sejumlah obat-obatan seperti remdesivir, ivermectin, dan hydroxychloroquine. Namun, dengan adanya penyakit flu dan virus lainnya, obat antivirus seringkali efektif hanya pada awal penyakit.

Begitu virus telah menyebar luas di dalam tubuh, sistem kekebalan kita sendiri menjadi ancaman yang bisa membunuh. Respons itu tidak dapat sepenuhnya dikendalikan, tetapi dapat dimodulasi dan ditingkatkan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kesehatan Virus Corona
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top