Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Desainer Kenzo Meninggal Dunia, Begini Perjalanan Kariernya

Kenzo mengembuskan napas terakhirnya di sebuah rumah sakit di Paris, saat pagelaran Paris Fashion Week tengah berlangsung. 
Newswire
Newswire - Bisnis.com 05 Oktober 2020  |  05:24 WIB
Kenzo Takada, pendiri jenama fashion Kenzo, meninggal pada Minggu, 4 Oktober 2020. (Instagram - @kenzotakada_official)
Kenzo Takada, pendiri jenama fashion Kenzo, meninggal pada Minggu, 4 Oktober 2020. (Instagram - @kenzotakada_official)

Bisnis.com, JAKARTA — Desainer Jepang, Kenzo Takada, pendiri brand Kenzo, meninggal pada usia 81 tahun karena komplikasi virus corona.

Dia mengembuskan napas terakhirnya di sebuah rumah sakit di Paris, saat pagelaran Paris Fashion Week tengah berlangsung. 

Kabar kematian Kenzo Takada disampaikan juru bicaranya kepada media Prancis pada Minggu, 4 Oktober 2020.

"Dengan kesedihan yang luar biasa, merek K-3 mengumumkan kehilangan direktur artistik kenamaannya, Kenzo Takada. Desainer terkenal dunia itu meninggal dunia pada 4 Oktober 2020 karena komplikasi terkait Covid-19 pada usia 81 tahun di Rumah Sakit Amerika, di Neuilly-sur-Seine, Prancis,” demikian bunyi pernyataan itu.

Kenzo dikenal sebagai desainer Jepang pertama yang sukses berkarier di Paris. Dia menekankan kecintaannya pada grafis dan motif bunga besar. Setelah hampir 30 tahun berkarier di Prancis, dia menjual rumah mode ke LVMH, perusahaan yang menaungi merek fashion besar termasuk Dior dan Louis Vuitton pada 1993. Dia pensiun dari dunia mode 6 tahun kemudian.

Namanya kembali terdengar setelah meluncurkan merek interior dan peralatan rumah tangga Januari lalu. Langkah ini dilakukan lebih dari 50 tahun setelah dia pertama kali meluncurkan Jungle Jam, yang kemudian dikenal sebagai Kenzo.

Lahir 27 Februari 1939, di Himeji dekat Osaka, dari orang tua yang mengelola hotel, Kenzo sangat menyukai fashion sejak kecil.

Dia membaca majalah mode saudara perempuannya dan tertarik pada menggambar dan menjahit. Pada 1958, setelah kematian ayahnya, Kenzo mendaftar di perguruan tinggi mode Bunka di Tokyo, salah satu sekolah pertama yang menerima siswa laki-laki.

Setelah lulus dia bekerja mendesain pakaian wanita untuk sebuah pasar toserba. Kenzo muda terinspirasi oleh perancang busana Prancis, Yves Saint Laurent, minat yang didorong oleh gurunya di Bunka yang pernah belajar di Paris.

Pada 1965, dia meninggalkan Jepang dengan perahu melalui Hong Kong, Vietnam, dan India, tiba di pelabuhan Marseille, Prancis. Dari situlah dia ke Paris, awalnya hanya untuk berkunjung, tapi akhirnya memberanikan diri tinggal di kota mode itu.

Dia tidak mengenal siapa pun di Ibu Kota Prancis itu, hanya berbicara sedikit bahasa Prancis, dan hampir tidak punya uang.

Dia memproduksi koleksi pertamanya di butik kecil di Galerie Vivienne dari kain murah dari pasar Montmartre. Koleksi pertamanya diluncurkan pada 1970. Kemudian dia mendirikan rumah desainnya sendiri di Place des Victoires pada 1976. Koleksi pakaian siap pakai pria pertamanya adalah pada tahun 1983 dan parfum pertamanya, Kenzo Kenzo, mulai dijual pada 1988.

Dia pensiun dari fashion pada 1999 untuk berkonsentrasi memproduksi desain artistik. Pada 2016, dia diangkat menjadi ksatria Legion of Honour. Pada 2019 dibujuk kembali mendesain fashion untuk membuat kostum produksi Madame Butterfly di Yayasan Tokyo Nikikai Opera Foundation.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

desainer kenzo

Sumber : Tempo.co

Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top