Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ucapan Buruk Dapat Pengaruhi Opini Negatif Anak terhadap Orang Lain

Sebuah studi dalam jurnal Child Development di Amerika Serikat mneunjukkan bahwa anak-anak yang tidak sengaja mendengar seseorang berkata buruk tentang kelompok orang tertentu dapat memengaruhi prasangka buruk terhadap kelompok tersebut.
Laurensia Felise
Laurensia Felise - Bisnis.com 25 Maret 2021  |  20:24 WIB
Anak-anak. Mereka akan selalu mencoba mengotak-kotakkan orang lain dan di usia tersebut merupakan hal yang wajar terjadi.   - UN.org
Anak-anak. Mereka akan selalu mencoba mengotak-kotakkan orang lain dan di usia tersebut merupakan hal yang wajar terjadi. - UN.org

Bisnis.com, JAKARTA - Sebuah studi dalam jurnal Child Development di Amerika Serikat mneunjukkan bahwa anak-anak yang tidak sengaja mendengar seseorang berkata buruk tentang kelompok orang tertentu dapat memengaruhi prasangka buruk terhadap kelompok tersebut.

Melansir dari CNN, Kamis (25/3/2021), penelitian ini dilakukan terhadap 121 anak dengan rentang usia 4-9 tahun yang dikelompokkan menjadi beberapa kelompok kecil. Mereka akan didengarkan sebuah klaim negatif dari seorang anak atau orang dewasa tentang sebuah kelompok fiksi yang disebut "Flups" atau "Gearoos" maupun mereka tidak mendengar klaim negatif.

Para anak akan sibuk dengan aktivitas yang tidak terkait dengan penelitian ketika ada orang dewasa yang memainkan sebuah telepon video yang telah direkam sebelumnya, di mana mereka akan mendengarkan secara tidak sengaja sebuah pesan tentang satu atau dua kelompok fiksi maupun pesan yang tidak mengandung unsur negatif.

Pesan yang tidak sengaja mereka dengar berbunyi bahwa kelompok Flurps/Gearoos merupakan orang yang buruk, makan makanan yang menjijikkan, memakai pakaian yang aneh, dan bahasa yang digunakan kelompok tersebut terdengar jelek.

Tidak lama setelah pesan tersebut didengar, anak-anak berusia 7 tahun ke atas menunjukkan ekspresi yang kurang baik kepada kelompok fiksi tersebut dibanding dengan anak-anak yang tidak mendengar pesan tersebut sama sekali.

Menurut kandidat doktor Jurusan Pengembangan Manusia dan Psikologi Universitas Vanderbilt di Nashville, Emily Conder, anak-anak tersebut kemudian diwawacara kembali sekitar dua pekan kemudian dan hasilnya mereka masih menunjukkan prasangka buruk terhadap kelompok tersebut.

Conder menambahkan mereka akan selalu mencoba mengotak-kotakkan orang lain dan di usia tersebut merupakan hal yang wajar terjadi. Umumnya, mereka akan memisahkan orang berdasarkan warna kulit, pakaian, dan faktor lain agar bisa memahami dunia sekitar mereka.

Akan tetapi, dalam penelitian tersebut tidak semua memiliki kacamata prasangka buruk. Rata-rata, mereka yang berusia 4 dan 5 tahun melihatnya dengan kacamata yang berbeda. Melihat hasil ini, Conder belum melihat mengapa anak-anak yang lebih muda tidak terlalu berpengaruh dengan omongan buruk terkait suatu kelompok.

Ia menduga bahwa hal tersebut bisa dikaitkan dengan waktu perhatian mereka yang singkat serta kemampuan mereka untuk memproses informasi yang tidak sengaja mereka dengar yang masih terbatas.

Meski riset ini tidak memberikan spesifik usia pembicara pesan buruk, tetapi riset ini menunjukkan fakta bahwa usia penyampai pesan buruk tidak memengaruhi dampak terhadap anak-anak.

"Saya pikir seiring dengan anak-anak ini bertambah usia, perilaku mereka akan lebih dipengaruhi oleh anak-anak lain. Tetapi mereka sama-sama terpengaruh oleh anak-anak dan orang dewasa dari segala kelompok usia," terang Conder.

Hal ini diperkuat dengan pernyataan Kepala Staf Keragaman di Asosiasi Psikologi Amerika, Maysa Akbar. Meski ia bukan peneliti dalam studi tersebut, ia menyebutkan anak-anak masih mudah terpengaruh dari apa yang mereka dengarkan seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan mereka.

Akbar menambahkan ketika anak-anak ini mendengar informasi buruk secara tidak sengaja tentang suatu kelompok, mereka bisa mulai berpikir tentang kelompok yang berbeda sebagai sesuatu yang berbeda dan tidak perlu diasosiasikan kelompok yang berbeda.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

anak-anak Revolusi Mental
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top