Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Aura Positif di Balik Produk Tas Emma Little Things

Emma Little Things, merek tas yang dirintis Yellia Fatma pada 2016 itu telah berhasil menembus pasar Malaysia Korea, Jepang, Taiwan, hingga China. Usahanya dimulai dengan modal hanya Rp2,5 juta.
Janlika Putri Indah Sari
Janlika Putri Indah Sari - Bisnis.com 06 Mei 2021  |  22:00 WIB
Emma Little Things kemudian rajin menjadi salah satu bagian dari pameran UMKM yang diadakan pemerintah, termasuk KBRI dan Indonesia Trade and Promotion Centre (ITCP).  - Emma Little Things
Emma Little Things kemudian rajin menjadi salah satu bagian dari pameran UMKM yang diadakan pemerintah, termasuk KBRI dan Indonesia Trade and Promotion Centre (ITCP). - Emma Little Things

Bisnis.com, JAKARTA — Emma Little Things, merek tas yang dirintis Yellia Fatma pada 2016 itu telah berhasil menembus pasar Malaysia Korea, Jepang, Taiwan, hingga China. Usahanya dimulai dengan modal hanya Rp2,5 juta.

Emma Little Things bukan bisnis pertama Yellia Fatma. Sebelumnya, warga Kota Depok ini menggeluti usaha katering. Akan tetapi, belakang ia putar haluan lantaran usaha makanan dirasa syarat ketentuan, terutama apabila ingin berekspansi pasar luar negeri.

"Ribet banget untuk makanan dan minuman ternyata, walaupun potensi pasarnya besar,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (6/5/2021).

Usaha makanan dan minuman itu harus mempunyai Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-PIRT), sebelumnya ada Sertifikasi Penyuluhan (SP) yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten.

Selain itu dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), seperti Sertifikasi Makanan Dalam (MD) bagi industri pangan yang mulai beranjak masuk skala besar. Belum lagi diperlukan Sertifikat Halal hingga HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP).

Di samping itu, produk pangan juga memerlukan pemikiran soal kemasannya.

Sebaliknya, syarat dan ketentuan produk fesyen dan kerajinan tangan terbilang simpel. Bahkan untuk ekspor sekalipun. Pembuatannya pun tidak rumit karena tidak ada standar produksi tertentu, dan risiko kerusakan juga terbilang minim terkait dengan daya tahan produk berdasarkan durasi waktu.

"Yang perlu dikedepankan adalah bahan, model, pilihan warna dan teknik pembuatannya. Dengah begitu tas bisa menjadi barang klasik yang longlasting," ujarnya. Saat itu, pilihan Yellia jatuh pada produk tas.

Pada 2016, Yellia meresmikan memulai membuat tas dengan merek Emma Little Things. Emma adalah nama ibunya. Yellia berharap mendapatkan keberkahan, ridho dan doa ibunya dalam bisnis ini. Adapun 'Little Things' disematkan sebagai kata yang simple agar 'orang bule' gampang menyebutnya. Selain itu, jika nantinya berekspansi ke bisnis parfume, kosmetik atau home decor, merek itu masih relevan.

Pada awal perjalannya, Yellia mengaku hanya bermodalkan Rp2,5 juta. Dana itu didapatkannya dari pendapatkan kateringnya. Dengan dana itulah ia membeli bahan sisa di toko bahan yang panjangnya tinggal sekitar 2 yard.

“Pokoknya potongan bahan sisaan yang tidak terjual, kemudian saya bawa ketukang jahit. Waktu itu hanya dapat dibuat 8 tas dan 10 dompet,” ujarnya.

Dengan bermodal produk itu, Yellia mengikuti pameran. Sistemnya sharing booth dengan beberapa temannya. Ini untuk meminimalkan pengeluaran, dan karena produknya memang tak banyak. "Tas saya dibilang tak bagus," ujarnya.

Yellia menilai urusan mem-branding pasar tak gampang. “Walaupun saya bilang, dan saya jamin tas saya lebih bagus dan lebih murah dari tas kw. Akan tetapi, orang-orang lebih senang menggunakan tas kw daripada tas merek lokal,” tambahnya.

Di saat mulai putus asa, Yellia mendapatkan undangan Simposium Women Islamic Economic Forum di Korea, dan panitia memilihnya menjadi perwakilan Indonesia untuk memperkenalkan produk terbaiknya. Ketika itu delegasi Korea tertarik dengan tas Emma Little Thing.

Mereka bertanya, bagaimana Yellia membayar biaya produksi dengan harga tas itu. "Semangatku hidup kembali," katanya.

Emma Little Things kemudian rajin menjadi salah satu bagian dari pameran UMKM yang diadakan pemerintah, termasuk KBRI dan Indonesia Trade and Promotion Centre (ITCP). Hasilnya, pada 2017 Emma Little Things menjadi pemasok ke beberapa butik dan mal di Malaysia. Emma Little Things juga sudah menjual tasnya ke Korea, Jepang, Taiwan, China, hingga Rusia.

Sebagai wujud cinta pada Indonesia, Yellia mengkombinasikan tas Emma Little Things dengan kekayaan alam Nusantara, mulai dari tenun, ulos, songket, hingga batik.

Ia juga melihat tren pasar, dengan rajin melakukan pengalamat seperti terkait dengan bahan, dan modelnya. Setelah menemukan ide tersebut, desain dan pola tas itu dibuat sebelum belanja bahan, jahit, dan pasang aksesoris.

Selain melalui pameran, Emma Little Things punya butik di bilangan Perumahan Persada Depok, dan Butik Neng Geulis di Aeon Sentul. Di samping itu, Yellia juga membangun toko digital di sejumlah e-commerce, seperti Shopee, Lazada, dan Tokopedia.

"Emma Little Things tidak akan jadi seperti sekarang tanpa doa dan dukungan ibu, suami, anak, saudara. Jadi berada di lingkungan positif benar-benar itu memberi energi tambahan yang luar biasa. Bergaulah dengan yang membawa aura positif dan tetap semangat," katanya Yellia.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

fashion desainer aksesoris
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top