Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lewat Firtual, Kominfo Ajak Masyarakat Cegah Perundungan Siber

Jumlah kasus perundungan siber ini terus bertambah sejalan dengan meningkatnya jumlah pengguna internet dan arus informasi di media sosial. Oleh sebab itu literasi digital yang kuat yang dimiliki masyarakat menjadi modal utama dalam menangkal konten negatif dan informasi hoaks yang masih beredar.
MG Noviarizal Fernandez
MG Noviarizal Fernandez - Bisnis.com 21 Februari 2022  |  18:19 WIB
Lewat Firtual, Kominfo Ajak Masyarakat Cegah Perundungan Siber
tangkapan acara Forum Literasi Hukum dan HAM Digital (Firtual) dengan tema 'Sadar Hukum dan HAM: Perundungan Siber dan Etika Siber', Senin (21/02 - 2022).
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat memudahkan masyarakat untuk dapat saling berinteraksi meski tanpa kontak fisik. Saat ini semakin beragam jenis media sosial yang tersedia. Selain bisa mendapatkan informasi, media sosial juga mempunyai manfaat menghibur.

Sayangnya, saat ini banyak terjadi penyalahgunaan media sosial. Jumlah kasus perundungan siber ini terus bertambah sejalan dengan meningkatnya jumlah pengguna internet dan arus informasi di media sosial.

Direktur Informasi dan Komunikasi Politik, Hukum, dan Keamanan, Kemkominfo, Bambang Gunawan, menegaskan bahwa salah satu tantangan terbesar generasi muda ketika bergaul di dunia maya adalah perilaku perundungan siber atau cyberbullying. Selain itu, keriuhan informasi yang disertai dengan konten negatif dan hoaks juga menjadi tantangan lain di dalam dunia digital saat ini.

“Literasi digital yang kuat yang dimiliki masyarakat menjadi modal utama dalam menangkal konten negatif dan informasi hoaks yang masih beredar”, kata Bambang di sela acara Forum Literasi Hukum dan HAM Digital (Firtual) dengan tema ‘Sadar Hukum dan HAM: Perundungan Siber dan Etika Siber’, Senin (21/02/2022).

Komisioner Pendidikan dan Penyuluhan Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara, menambahkan bahwa kebebasan berpendapat dan berekspresi juga perlu adanya pembatasan. “Kalau kita melihat Kovenan Internasional Hak Sipil Politik yang sudah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia, ada dua pembatasan utama, yaitu tidak merendahkan harkat dan martabat orang lain, dan tidak membahayakan keamanan nasional,” katanya.

Selanjutnya, kata dia, selain dua pembatasan yang utama itu tadi juga ada mekanismenya, seperti pembatasan kebebasan berpendapat itu harus diatur oleh hukum dan diperlukan dalam masyarakat demokratis. “Artinya apa? yaitu semua ini adalah untuk mengimplementasikan soal menghormati hak orang lain”, tegas Beka.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Nyarwi Ahmad, menilai bahwa bukan sekadar kemampuan berkomunikasi di publik yang dibutuhkan, tetapi juga orang perlu mengerti prinsip-prinsip berkomunikasi di ruang publik, tahu norma dan etika, apa saja dan mana saja yang bisa dan pantas dilakukan dan sebagainya.

“Itu semua penting untuk dilakukan, bila tidak, pasti akan memunculkan persoalan, salah satunya ya cyber-bullying,” tambahnya.

Staf Khusus Menkominfo, Dr. Rosarita Niken Widiastuti menilai banyak masyarakat mengira kehidupan nyata dan kehidupan dunia maya berbeda. Pada kehidupan nyata ada etika dan sopan santun, namun ketika di media sosial seorang diri seolah-olah tidak ada tanggung jawab pada apa yang mereka tulis dan upload, padahal apapun yang di-upload semuanya meninggalkan history. “Jejak digital akan selalu ada dan tidak terhapus sampai kapanpun. Jadi mari berinvestasi dengan mengunggah konten-konten yang positif di dunia maya”, tuturnya.

Publik figur, Tasya Kamila, memberikan tipsnya dalam menghadapi perundungan siber seperti yang pernah dialaminya. Menurut Tasya, orang-orang yang sering berkomentar yang sifatnya hinaan, tidak penting, dan cenderung membully, tidak perlu dikasih panggung atau sebaiknya dicuekin saja dan apabila sudah terlalu menggangu bisa di-block.

Meskipun demikian, Tasya menambahkan bahwa semuanya kembali lagi kepada pribadi masing-masing dalam memposting konten. Menurutnya halaman media sosial harus dijadikan sebagai konten yang menyebarkan positivity dan itu akan menghasilkan pengikut-pengikut yang positif juga.

“Kalau kita suka posting yang kontroversi maka yang bakalan menanggapi postingan kita juga pastinya akan menuai respon-respon yang kontroversi juga. Tetapi kalau kita ingin membangun komunitas yang positif ya kita pun juga harus mengkurasi konten kita”, kata Tasya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cyberbullying Bullying
Editor : Puput Ady Sukarno
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top