Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Pandemi Covid-19 Picu Fenomena Mata Minus pada Anak

Pandemi Covid-19 turut menjadi salah satu pemicu terjadinya mata minus terutama pada anak-anak.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 23 Oktober 2022  |  13:25 WIB
Pandemi Covid-19 Picu Fenomena Mata Minus pada Anak
Anak mengenakan kacamata - Antara
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Pandemi Covid-19 turut menurunkan aktivitas masyarakat di luar rumah yang diyakini menjadi salah satu pemicu terjadinya mata minus terutama pada anak-anak, di mana faktor penggunaan gawai yang makin intens menjadi salah satu penyebab fenonema Myopia Booming.

Dokter Optometri dan Praktisi Terapi Mata Minus (Orthokeratology) Andri Agus menjelaskan bahwa saat ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksikan bahwa setengah populasi dunia akan bermata minus pada 2050.

“Tentunya prevalensi ini meningkat dari tahun ke tahun terutama sejak pandemi Covid-19, anak-anak lebih sering menggunakan gawai atau ponsel pintarnya sehingga terjadinya kenaikan mata minus yang pesat,” ujarnya, dikutip melalui rilisnya, Minggu (23/10/2022)

Dia melanjutkan, ledakan mata minus terjadi di beberapa negara Asia Timur dan Tenggara, termasuk Indonesia dengan pertumbuhan kasus yang signifikan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada pada 312 anak, 41% di antaranya mengalami mata minus dan 21% mengalami gangguan refraksi penglihatan yang berat.

“Menurut data yang saya pelajari dan saya temukan pada pasien-pasien saya, prevalensi kenaikan mata minus pada anak-anak sekolah di Indonesia mencapai 20%. Yang mana artinya, 10 sampai 15 dari 40 anak di setiap ruangan kelas mengalami kelainan refraksi ini,” katanya.

Oleh sebab itu, Andri berharap para orang tua harus menyadari bahwa fenomena Myopia Booming ini tidak bisa disepelekan karena kesehatan mata itu memegang peranan penting dalam tumbuh kembang anak serta prestasi belajar mereka.

Setali tiga uang, dokter Spesialis mata Weni Puspitasari mengatakan mata minus yang tidak terkoreksi dengan baik bisa menimbulkan beberapa komplikasi yang berbahaya bagi kesehatan mata. Bahkan seseorang yang mengalami mata minus yang tinggi bisa berisiko besar untuk mengalami kebutaan.

“Ada beberapa kondisi yang bisa timbul akibat gangguan refraksi miopi yang tidak ditangani dengan baik seperti mata malas. Mata malas kerap terjadi pada anak-anak, di mana terjadi miopi yang berat pada satu mata sehingga otak hanya mengandalkan mata yang sehat,” katanya.

Faktanya, dia melanjutkan penglihatan mata malas tidak bisa dibantu dengan kacamata atau lensa kontak biasa. Selain itu, mata minus yang dibiarkan bisa berisiko besar terjadinya penyakit katarak dan glaukoma.

“Kalau seseorang punya ukuran minus yang tinggi, dia juga punya risiko tinggi untuk mengalami ablasi retina atau retina matanya lepas,” ujarnya

Namun, dia mengatakan kabar baiknya 80% gangguan penglihatan ini bisa dicegah sejak dini dengan berbagai cara seperti mengurangi intensitas penggunaan gawai yang berlebih, lebih sering beraktivitas di luar, dan yang paling penting selalu rutin melakukan pemeriksaan mata.

“Pemeriksaan mata yang baik dianjurkan untuk dilakukan setiap 6 sampai dengan 12 bulan sekali. Dengan ini, kita dapat mencegah terjadinya penyakit mata yang bisa membahayakan kesehatan mata kita,” katanya.

Dia menjelaskan ada cara yang efektif untuk bisa mengatasi mata minus pada anak-anak tanpa harus menempuh metode pembedahan, yaitu Ortho-K atau yang dikenal dengan Terapi Mata Minus (Terapi Ortho-K).

Fungsi Terapi Ortho-K ini adalah membentuk ulang kornea mata yang melonjong dan tidak beraturan sehingga bentuk korneanya menjadi kembali bulat. Penggunaannya sangat efektif dilakukan saat malam hari atau pada saat tidur minimal 8 jam.

“Pada saat bangun dan beraktivitas, penglihatan pasien menjadi jernih tanpa bantuan kacamata atau lensa kontak. Terapi Ortho-K harus rutin digunakan sesuai dengan anjuran dokter untuk menurunkan mata minus dan menahannya agar hasilnya maksimal,” ujarnya.

American Academy of Ophthalmology mengungkapkan bahwa penggunaan Ortho-K ini sudah mendapat FDA (Food and Drug Administration) Approval sehingga aman digunakan mulai dari pasien yang usianya anak-anak hingga orang dewasa. Jadi, terapi ini termasuk alami dan tingkat keberhasilannya juga lumayan tinggi sebesar 85-90%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mata pandemi corona Pandemi Covid-19 anak
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top