Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Rokok Elektrik Bikin Gangguan Gusi, Ini Faktanya

Rokok elektrik atau vape sebagai salah satu produk tembakau alternatif diklaim tidak terbukti menyebabkan gangguan pertahanan gusi.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 07 Desember 2022  |  11:30 WIB
Rokok Elektrik Bikin Gangguan Gusi, Ini Faktanya
NCIG International memutuskan untuk berinvestasi di Indonesia melihat potensi pasar rokok elektrik yang besar. - FOTO REUTERS
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Rokok elektrik atau vape sebagai salah satu produk tembakau alternatif diklaim tidak terbukti menyebabkan gangguan pertahanan gusi.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan akademisi Universitas Padjadjaran, Bandung dengan judul “Respons Gusi Pada Pengguna Vape Saat Mengalami Peradangan Gusi Buatan (Gingivitas Experimental)”.

“Hasil penelitian ini membuktikan bahwa pengguna vape yang telah beralih dari merokok menunjukkan perbaikan kualitas gusi yang dibuktikan dengan fungsi pertahanan gusi yang sama seperti yang dialami non-perokok. Artinya, [setelah beralih] kondisi pertahanan gusinya kembali normal,” kata Amaliya, salah satu peneliti, Rabu (7/12/2022).

Dia menuturkan peradangan gusi merupakan mekanisme pertahanan dalam merespon plak bakteri yang menempel di permukaan gigi. Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan (preliminary study) tersebut menunjukan bahwa pertahanan gusi pengguna vape hampir menyerupai kondisi gusi pada bukan perokok dan nikotin juga tidak terbukti sebagai penyebab utama penyempitan pembuluh darah pada gusi.

Nikotin, kata Amaliya, selama ini dianggap sebagai penyebab gangguan pertahanan gusi yang ditandai dengan penyempitan pembuluh darah. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa pengguna vape dengan cairan e-liquid yang mengandung nikotin tidak memperlihatkan gangguan pertahanan gusi.

“Berarti, ada kandungan lain dari rokok, selain nikotin, yang menyebabkan peradangan itu tidak terlihat. Jadi perlu ada penelitian lebih lanjut,” ujarnya.

Dia menjelaskan penelitian ini melibatkan 15 responden berusia 18-55 tahun yang dibagi ke dalam tiga kelompok dengan distribusi gender tidak merata. Kelompok pertama adalah perokok dengan masa konsumsi rokok minimal satu tahun.

Kelompok kedua adalah pengguna vape yang telah beralih dari rokok dengan masa penggunaan vape minimal satu tahun. Adapun kelompok terakhir adalah non-perokok atau bukan pengguna produk tembakau yang dijadikan sebagai acuan hasil penelitian.

Dengan temuan ini, Amaliya berharap makin banyak riset ilmiah dari dalam negeri yang meneliti profil risiko dari vape dan produk tembakau alternatif lainnya secara komprehensif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perokok rokok elektrik
Editor : Rio Sandy Pradana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top