Aspartam/
Health

Benarkah Aspartam Bisa Picu Kanker? Ini Jawabannya

Arlina Laras
Selasa, 4 Juli 2023 - 10:29
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganggap aspartam, sebagai pemanis buatan memiliki zat karsinogenik pemicu kanker. 

Melansir dari Bisnis, hal ini pun memberikan dampak terbatas kepada Coca-Cola. 

Pasalnya, Coca-Cola menggunakan aspartam sebagai bahan baku pemanis pengganti gula dalam pembuatan produk minuman rendah kalori yakni Diet Coke. 

Seperti diketahui, produk rendah kalori seperti salah satunya Diet Coke menyumbangkan sepertiga dari total penjualan Coca-Cola pada 2022. 

Tak ayal, kejadian ini pun membuat sebagian masyarakat bingung apakah mereka harus menghindari minuman diet atau tidak.

Dalam mengatasi kebingungan di tengah penyebaran berita yang menakutkan dan informasi yang salah di media sosial mengenai aspartam, berikut Bisnis telah merangkum beberapa poin. Simak ulasannya. 

Apa itu aspartam?

Aspartam adalah salah satu pemanis yang paling umum digunakan. Ini digunakan oleh produsen makanan dan minuman di Inggris untuk berbagai produk seperti minuman diet, yoghurt, dan permen karet. 

Zat pemanis ini terbuat dari asam amino, yaitu asam aspartat dan fenilalanin, yang ditemukan dalam protein seperti daging.

Aspartam tidak mengandung kalori dan sekitar 200 kali lebih manis dari gula granulasi biasa.

Penggunaan aspartam dalam jumlah kecil atau dalam batas yang direkomendasikan dapat membantu mencapai tujuan penurunan berat badan karena aspartam memberikan rasa manis tanpa menambah kalori yang signifikan. 

Apakah aspartam menyebabkan kanker?

Dalam konteks kesehatan, beberapa organisasi telah memberikan penilaian terhadap aspartam. 

IARC (International Agency for Research on Cancer) menyebutkan aspartam sebagai 'mungkin karsinogen', 

Sayangnya, tidak ada cukup bukti untuk membuat klaim tersebut, karena pihaknya tidak menjelaskan mengenai dosis penggunaannya.

Otoritas keamanan pangan seperti European Food Safety Authority (EFSA) dan JECFA (Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives) menyatakan aspartam aman untuk dikonsumsi manusia. 

JECFA mencatat seorang dewasa dengan berat 60 kg perlu mengonsumsi 12-36 kaleng dinilai melebihi batas aman yang ditetapkan oleh EFSA.

Sementara itu, sebuah studi yang diterbitkan dalam Nutrition Journal, ,mengatakan konsumsi minuman bersoda meningkatkan tekanan darah dibandingkan dengan minuman non-kalori. 

Saat ini, JEFCA sedang meninjau penggunaan aspartam, dan mereka akan mengumumkan temuan mereka pada tanggal 14 Juli ketika IARC membuat keputusannya publik. 

Environ Health Perspect pun turut menerbitkan jurnal soal aspartam. Penelitian ini mengujicobakan  tikus, dan ditemukan hasil soal bagaimana manusia tidak akan mengonsumsi dosis aspartam sebanyak 200 kali lipat layaknya tikus. 

Hal senada juga disampaikan The University of Maryland, mereka menyatakan manusia tidak mungkin dapat mengonsumsi jumlah aspartam yang tinggi seperti yang digunakan pada tikus.

Sementara itu, Critical Reviews of Toxicology, menyatakan tidak ada bukti yang mendukung adanya hubungan antara aspartam dan kanker pada jaringan tubuh apa pun. 

Di Journal of the National Cancer Institute, mengungkap sedikit bukti biologis atau eksperimental yang menunjukkan aspartam kemungkinan bertindak sebagai karsinogen otak manusia.

Dari beberapa penelitian tersebut, tidak ada bukti yang kuat yang mendukung klaim aspartam menyebabkan kanker pada manusia. 

Apakah aspartam aman?

Menurut Safety Of Aspartame yang telah dilakukan 100 studi, melibatkan 200 ilmuwan, dan 90 negara yang semuanya menyatakan hal yang sama. 

Selama lebih dari empat puluh tahun, FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) telah secara berulang kali mengonfirmasi aspartam aman untuk dikonsumsi manusia. 

FDA menyatakan aspartam adalah salah satu zat yang paling banyak diteliti dalam pasokan makanan manusia, dengan lebih dari 100 studi yang mendukung keamanannya. 

Para ilmuwan FDA telah meninjau data ilmiah mengenai keamanan aspartam dalam makanan dan menyimpulkan aspartam aman bagi populasi umum dalam kondisi tertentu.

Sejumlah lembaga seperti, Otoritas Keamanan Pangan Eropa, Health Canada, Otoritas Standar Pangan Inggris (UK), Cancer Research UK, juga Food Standards Australia ikut mendukung pernyataan soal keamanan aspartam

Penulis : Arlina Laras
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro