Ilustrasi rokok. /Freepik
Health

Potensi Produk Tembakau Alternatif Tekan Angka Perokok Belum Maksimal

Rio Sandy Pradana
Senin, 26 Februari 2024 - 16:08
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Potensi produk tembakau alternatif untuk menurunkan angka perokok dinilai belum dimaksimalkan secara luas.

Pakar kesehatan yang juga mantan Direktur Kebijakan Penelitian & Kerja Sama World Health Organization (WHO), Tikki Pangestu mendukung Pemerintah Indonesia memanfaatkan produk tembakau alternatif untuk menurunkan prevalensi sekaligus memitigasi epidemi merokok.

“Produk tembakau alternatif bahkan lebih efektif daripada NRT [Nicotine Replacement Therapy] dalam membantu perokok dewasa yang ingin beralih dari kebiasaannya,” katanya, Senin (26/2/2024).

Dia berharap pemerintah terus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya merokok dan membantu perokok dewasa berhenti dari kebiasaannya. Tentunya dengan tetap memberikan kebebasan bagi perokok dewasa memilih pendekatan yang paling sesuai.

Sementara itu, berdasarkan jurnal “Harnessing Tobacco Harm Reduction” yang dilansir The Lancet, mantan Pejabat WHO Robert Beaglehole dan Ruth Bonito, mengulas potensi produk tembakau alternatif dalam menurunkan prevalensi merokok.

Menurutnya, kebijakan pengendalian tembakau saat ini belum mampu mengurangi jumlah perokok secara signifikan.

Secara global, hanya 30 persen dari seluruh negara di dunia yang berada pada jalur tepat untuk mencapai target penurunan angka perokok pada 2030, yang ditetapkan WHO.

"Pengendalian tembakau [yang saat ini dilakukan] tidak didasarkan pada bukti terbaru mengenai peran produk tembakau alternatif yang inovatif dalam membantu perokok dewasa beralih ke produk lebih rendah risiko," demikian tertulis dalam laporan, dikutip Senin (26/2/2024).

Menurut Robert dan Ruth, gagalnya strategi penurunan angka perokok karena WHO menolak konsep pengurangan bahaya tembakau. Selama ini, banyak orang merokok karena ketergantungan nikotin.

Adanya konsep pengurangan bahaya tembakau berfungsi untuk membantu perokok dewasa beralih dari kebiasaannya dengan memanfaatkan produk tembakau alternatif yang lebih rendah risiko daripada rokok, namun tetap dapat menghantarkan nikotin bagi penggunanya.

Sebuah penelitian terbaru bertajuk 'Integrating Harm Reduction into Tobacco Control' pada Oktober 2023, juga menunjukkan hasil yang sama dengan laporan Robert dan Ruth.

Studi tersebut menyimpulkan bahwa sejumlah negara, salah satunya Pakistan, berpotensi menurunkan prevalensi merokok selama empat dekade mendatang dengan menerapkan strategi pengurangan bahaya tembakau.

Selain itu, kesuksesan Swedia dalam menurunkan prevalensi merokok menjadi bukti nyata dari efektifnya pendekatan pengurangan bahaya yang memaksimalkan produk tembakau alternatif.

Selama 15 tahun terakhir, Swedia telah mencapai penurunan angka perokok dari 15 persen pada 2008 menjadi 5,6 persen pada 2022.

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro