Gangguan Autis di Indonesia Tinggi, Butuh Penanganan Khusus

Angka kejadian autisme saat ini cukup dramatis. Di Amerika Serikat, menurut Research Units on Pediatric Psychopharmakology, ditemukan 1 dari 160 anak prasekolah menderita autis.
Rahmayulis Saleh | 02 April 2014 15:31 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Angka kejadian autisme saat ini cukup dramatis. Di Amerika Serikat, menurut Research Units on Pediatric Psychopharmakology, ditemukan 1 dari 160 anak prasekolah menderita autis.

Di Indonesia belum ada penelitian khusus untuk menilai angka kejadian autisme. Namun, jumlah kunjungan ke Instalasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja RSJ Soeharto Heerdjan, selama 2013 sebesar 15% dari 6.600 kunjungan terdapat anak autisme.

"Rata-rata usia anak yang datang ke RSJ Soeharto Heerdjan itu sudah melebihi 3 tahun. Angka itu mengisyaratkan bahwa masyarakat belum mengerti benar tentang autisme," kata Eka Viora, Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan, di Jakarta, Rabu (2/4/2014).

Eva menuturkan autisme merupakan gangguan perkembangan menetap, yang penyebab pastinya sampai sekarang belum dapat ditentukan.

Beberapa pendapat menyebutkan bahwa pemicu autisme antara lain neurobiologis, imunologis dan infeksi virus. Anak mengalami masalah dan sulit berinteraksi dan berkomunikasi.

Gangguan menetap pada interaksi sosial, komunikasi terbatas dan pola tingkah laku terbatas, serta stereotipik (monoton), muncul sebelum anak berusia 3 tahun. Lebih dari 70% mempunyai kecerdasan di bawah rata-rata.

"Masalah kompleks pada autisme terjadi pada berbagai tingkat sosioekonomi. Oleh karenanya, menjadi masalah dunia yang menjadi perhatian serius," kata Eva dalam pertemuan menyambut Hari Peduli Autisme Sedunia 2014, yang diperingati setiap 2 April.

Eva menambahkan tingginya gangguan autisme mengisyaratkan pentingnya penanganan serius, menyangkut pendidikan, dan pekerjaan yang akan menopang kehidupan mereka.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
autis

Editor :

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top