Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

FITOFARMAKA: Tak Ada Kemajuan, Baru 6 Produk

Produk fitofarmaka tak bertambah sejak 15 tahun lalu, atau hanya enam produk saja. Oleh karena itu, inisiatif pemerintah meningkatkan riset tanaman obat Nusantara dipertanyakan.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 11 Desember 2014  |  19:02 WIB
Herbal - johntsagaris.co.uk
Herbal - johntsagaris.co.uk

Bisnis.com, JAKARTA—  Produk fitofarmaka tak bertambah sejak 15 tahun lalu, atau hanya enam produk saja. Oleh karena itu, inisiatif pemerintah meningkatkan riset tanaman obat Nusantara dipertanyakan.

Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Farmasi (GP Farmasi) Dorodjatun Sanusi mengatakan ada lebih dari 1.000 jenis tanaman berkhasiat obat, namun terbengkalai akibat minimnya upaya pemerintah melakukan saintifikasi jamu.  

"Kalau produk fitofarmaka semakin banyak, konsumen yang memiliki keinginan menggunakan obat herbal juga terlayani. Sekarang pertumbuhan kinerja dari sektor ini memang tidak bertambah," tuturnya di Jakarta, Kamis (11/12/2014).

Fitofarmaka adalah obat tradisional dari bahan alam yang dapat disetarakan obat modern, karena proses pembuatannya yang telah terstandar, didukung bukti ilmiah berupa uji klinis pada manusia, protokoler uji, memenuhi prinsip etika, dan tempat produksi yang memenuhi syarat.

Fitofarmaka yang sudah terdaftar dan diresepkan oleh dokter antara lain Reumaneer (pengobatan nyeri sendi ringan sampai sedang), Stimuno (immunomodulator dan sebagai terapi ajuvan dalam pengobatan tuberkulosa), Xgra (disfungsi ereksi dengan atau tanpa ejakulasi dini, Tensigard agromed (menurunkan tekanan darah sislotik) dan livitens (obat jantung).

Minimnya pengembangan fitofarmaka juga ditenggarai oleh proses penilain obat tradisional menuju saintifikasi menggunakan standar yang tinggi. Sama seperti pendekatan untuk obat modern.

Menurut Dorodjatun, pendekatan obat modern akan mengalami banyak kesulitan jika dilakukan pada fitofarmaka.

"Ini masalah antarsektoral, mulai dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. BUMN farmasi juga punya andil dalam pengembangan fitofarmaka, seharusnya bisa menyisakan untuk biaya pengembangan," tuturnya.

OTC

Berbeda dengan fitofarmaka, produk herbal over the counter (OTC) tumbuh pesat pesat sejak 2011, yang rata-ratanya berkisar 13%-15%. Sementara itu, kontribusi total dalam pasar farmasi nasional mencapai 13% atau 812,5 juta dolar AS dari total pasar farmasi sebesar 6,25 miliar dolar AS.

Dorodjatun mengatakan tahun ini kinerja produk herbal diproyeksi tumbuh sebesar 14%-16%. Tren pertumbuhan produk herbal yang tinggi akibat kebutuhan konsumen menginginkan produk natural.

Sementara, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Roy A. Sparringa mengatakan saat ini sudah ada beberapa kandidat fitofarmaka terus dievaluasi.Menurut dia, meloloskan suatu produk tidak mudah mengingat diperlukan bukti ilmiah, dan tingkat keamanan produk yang tinggi.

"Sekarang yang penting bagi kami itu, aman dan berkhasiat. Lebih sulit meneliti fitofarmaka mengingat komponennya kompleks, berbeda dengan obat murni," tuturnya.

Roy menuturkan pihaknya sedang mendorong untuk hadirnya fitofarmaka baru mengingat penting bagi Indonesia yang memiliki berbagai keanekaragaman hayati.

"Kami telah mengevaluasi, dan sepakat untuk mendorong fitofarmaka baru untuk hadir. Tetapi juga di saat yang sama kandidat tersebut dapat terstandar," ujarnya. (Bisnis.com)

BACA JUGA:

Film "Iblis Jalanan" Diputar di TIM Hari Ini

Memasak & Memanggang Adalah Obat Depresi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jamu fitofarmaka

Sumber : Bisnis.com

Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top