Bekraf Sebut Investasi di Film Lebih Menggiurkan Dibanding Startup

Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf menyebutkan fakta investasi di sektor film jauh lebih menggiurkan dari startup.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 24 September 2019  |  07:04 WIB
Bekraf Sebut Investasi di Film Lebih Menggiurkan Dibanding Startup
Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf saat ditemui di Peluncuran dan Konferensi Pers Festival Film Indonesia 2019 di The Tribrata, Jakarta Selatan pada Senin (23/9 - 2019).

Bisnis.com, JAKARTA - Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf menyebut bahwa fakta investasi di sektor film jauh lebih menggiurkan dari startup.

"Dari segi investasi, film ini cepat balik modalnya, dan nggak akan hilang uangnya. Begitu penonton hari pertama masuk sudah balik modalnya sedikit. Lain kalau investasi di startup. Maka dari itu saya mau perkenalkan lebih jauh lagi," terang Triawan saat ditemui dalam acara peluncuran Piala Citra 2019 oleh Komite Festival Film Indonesia (FFI) di The Tribrata, Jakarta Selatan, Senin (23/9/2019). 

Bekraf  berinisiasi membuat sebuah forum bernama Film Market and Business yang ke depannya akan mempertemukan investor dan produsen film yang sedang mencari dana. 

"Kita akan ada pitching premium, artinya produser (film) yang besar-besar, yang memproduksi film di atas 50 miliar bahkan 100 miliar akan dipertemukan dengan investor besar. Lebih diutamakan kepada one-on-one, mungkin mereka ingin di dalam ruangan saja tidak di ruang publik untuk bicara karena idenya terlalu besar untuk dirisikokan," terangnya. 

Triawan menyebut korelasi antara pendanaan yang besar dengan hasil karya yang maksimal yang pernah dikerjakan pihakny, kemungkinan besar bisa diimplementasikan dalam karya film Indonesia. 

"Memang production value dari segi uangnya, pemodalnya, yang masih kurang. Orang kaya Joko Anwar, Sheila Timothy, Mira Lesmana, kalau dikasih uang pasti akan buat film yang bagus. Contohnya Asian Games itu anggarannya besar banget makanya bisa bagus banget. Sebenarnya yang ditampilkan itu-itu lagi, tapi production value-nya biayanya besar, (makanya) keren," terangnya. 

Triawan mengungkapkan bahwa selain bekerjama dengan Komite Festival Film Indonesia, Bekraf juga berperan dalam hal regulasi seperti mencabut film dalam daftar investasi negatif. 

"Kita tahulah jumlah penonton film Indonesia dari 16 juta sekarang 52 juta. Karena ada semangat kompetitif, persaingan yang positif, kolaborasi yang positif dari insan perfilman. Tumbuhnya layar bioskop, tumbuhnya jumlah produksi dan datangnya pelaku film internasional untuk melakukan co-production, investasi dan ke depannya kita harapkan lebih banyak pendidikan film apakah itu yang formal ataupun nonformal karena kita sudah mulai merasakan dalam sebuah produksi kekurangan orang," pungkasnya. 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Film, StartUp, Bekraf, Fact or Fake

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


0   Komentar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top