Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Studi Temukan Hubungan Kuat antara Vaping dan Depresi

Sebuah studi baru-baru ini menyimpulkan bahwa orang yang mengonsumsi rokok elektronik dua kali lebih mungkin melaporkan depresi klinis.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 16 Desember 2019  |  19:03 WIB
Ilustrasi rokok eletrik - Medical News Today
Ilustrasi rokok eletrik - Medical News Today

Bisnis.com, JAKARTA – Sebuah studi baru-baru ini menyimpulkan bahwa orang yang mengonsumsi rokok elektronik dua kali lebih mungkin melaporkan depresi klinis, dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah. Korelasi itu sangat kuat di kalangan orang muda.

Dikenal sebagai vaping, rokok elektronik bertenaga baterai dan menggunakan panas untuk memberikan koktail aerosol nikotin dan rasa kepada pengguna. Vape menghasilkan uap kecil, sedangkan rokok melepaskan asap.

Banyak orang percaya bahwa uapnya mengandung air. Bahkan, mengandung berbagai bahan kimia beracun yang memiliki hubungan dengan penyakit jantung dan pernapasan, serta kanker. Penggunaan rokok elektronik di Amerika Serikat telah meningkat sejak diperkenalkan 10 tahun lalu.

Menurut Annals of Internal MedicineTrusted Source, pada 2016, diperkirakan 10,8 juta orang di AS menggunakan rokok ini. Dari jumlah ini, 2,8 juta (9,2%) berusia 18 - 24 tahun.

Saat ini, beberapa ahli menganggap vaping sebagai epidemi di kalangan remaja. Jumlah siswa sekolah menengah yang beralih mengonsumsi vape naik dua kali lipat pada 2018.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam JAMA Network OpenTrusted Source menemukan hubungan yang signifikan antara vaping dan depresi. Meskipun hubungan antara rokok konvensional dan depresilah yang mendorong penelitian ini, hasilnya menunjukkan bahwa 9,1% dari mereka yang depresi adalah pengguna rokok elektronik.

Penulis utama studi ini, Olufunmilayo Obisesan dari John Hopkins University di Baltimore, mengatakan bahwa merokok dengan bahan yang mudah terbakar, seperti pada vape, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi mayor dan juga telah terbukti sangat prediktif terhadap perilaku bunuh diri di masa depan di antara individu dengan riwayat depresi.

"Mengingat kesamaan dalam beberapa konstituen rokok dan rokok elektronik, kami memutuskan untuk mengeksplorasi keberadaan hubungan yang sama antara rokok elektronik dan depresi," katanya dilansir Medical News Today pada Senin (16/12/2019).

Studi ini melibatkan hampir 900.000 orang dewasa dengan sampel acak berusia 18 ke atas dalam cross-sectional data 2016-2017 yang dikumpulkan oleh Behavioral Risk Factor Surveillance System (BRFSS), survei telepon nasional terbesar yang dilakukan di AS.

"Para peneliti menemukan bahwa 34% dari pengguna rokok elektronik saat ini melaporkan mengalami depresi klinis, dibandingkan dengan 15% dari mereka yang tidak pernah menggunakannya. Juga 27% dari mantan pengguna lebih mungkin melaporkan depresi klinis, dibandingkan dengan 15% pada mereka yang tidak pernah menggunakan rokok jenis ini," ujarnya.

Mahasiswa berusia 18 - 25 tahun menunjukkan hubungan paling signifikan antara penggunaan rokok elektronik dan depresi.

Para ilmuwan berfokus pada kelompok ini khususnya karena biasanya kaum muda lebih cenderung bereksperimen dengan produk-produk baru, seperti rokok elektronik. Perusahaan rokok sering menargetkan demografi ini dalam kampanye pemasaran.

"Ini menyoroti potensi kerentanan pengguna rokok elektronik dalam kelompok ini terhadap depresi pada waktu yang sangat rentan dalam kehidupan mereka, tetapi juga menjamin bahwa apa yang mungkin dilakukan kecanduan nikotin terhadap anak-anak kita, siswa sekolah menengah, dan yang lebih muda, yang kita tahu menggunakan e-rokok dalam proporsi epidemi," kata Mariell Jessup dari American Heart Association (AHA) Tobacco Center of Regulatory Science.

AHA telah meluncurkan inisiatif besar untuk mengatasi penggunaan rokok elektronik dan kecanduan nikotin pada kaum muda.

Studi ini juga menemukan bahwa hubungan antara penggunaan rokok elektronik dan depresi lebih kuat pada orang yang paling sering merokok.

"Secara klinis, penelitian kami memberikan informasi yang dapat dipertimbangkan dokter ketika memberi konseling pada pasien yang mencari informasi tentang rokok elektronik, terutama mereka yang mengalami depresi," kata Obisesan.

Dia menambahkan bahwa penelitian ini menekankan perlunya dokter dan profesional kesehatan untuk secara rutin mengumpulkan informasi tentang rokok elektronik dari individu selama kunjungan klinik, terutama di antara mereka yang memiliki kondisi kesehatan mental.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rokok elektrik
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top