Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Astaga, Vape Tingkatkan Risiko Infeksi Penyakit Mulut

Risiko infeksi penyakit mulut pada pengguna vape lebih tinggi. Sebab, penggunaan vape bisa mengubah ekosistem bakteri di dalam mulut.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 15 Maret 2020  |  16:35 WIB
Vape - Istimewa
Vape - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Penelitian baru yang dilakukan oleh New York University College of Dentistry menyatakan bahwa vape telah mengubah ekosistem bakteri di dalam mulut (mikrobioma oral) yang berdampak pada peningkatan risiko infeksi.

Dilansir dari Medical News Today, Minggu (15/3) penelitian yang diterbitkan di jurnal iScience itu menilai efek dari zat pada vape pada bagian pertama tubuh yang dicapai yaitu mulut. Selain sebagai jalan udara untuk memasuk paru-paru, mulut juga merupakan gerbang bagi mikroba.

Memiliki mikroba di dalam mulut tidak berarti hal buruk. Ada triliunan bakteri yang hidup di tubuh manusia seperti pada usus, kulit, mulut, di mana mereka membantu kinerja tubuh dengan melawan infeksi atau mencerna makanan.

Dalam studinya ini, para peneliti mengevaluasi efek penggunaan vape pada ekosistem bakteri di mulut. Perubahan ekosistem mikroba ini dapat berpotensi meningkatkan risiko terkena penyakit yang berkaitan dengan mulut.

Xin Li, penulis senior penelitian mengungkapkan mereka membandingkan mikrobioma oral dari tiga kelompok orang yakni pengguna rokok elektrik atau vape, perokok konvensional, dan bukan perokok.

Para ilmuwan, lanjutnya, memprofilkan mikroba yang ada dalam air liur 119 orang dari ketika kelompok yang diuji menggunakan jenis sekuensing genetik khusus. Hasilnya, mereka menemukan perubahan signifikan pada mikrobioma oral pengguna rokok elektrik.

Dibandingkan dengan perokok dan bukan perokok, vapers memiliki jumlah bakteri bernama Porphyromonas dan Veillonella yang lebih tinggi. Bakteri ini dilaporkan memiliki hubungan dengan penyakit gusi dan refleksi dari kesehatan periodontal yang terganggu.

Mereka juga menemukan tingkat dua penanda inflamasi yang lebih tinggi dalam kelompok perokok elektronik, hal ini menunjukan bahwa penggunaan vape berpengaruh terhadap sistem kekebalan lokal mulut.

Deepak Saxena, yang juga penulis penelitian menjelaskan bahwa mereka menemukan lebih banyak sel yang terinfeksi bakteri ketika mereka terpapar zat aeroosol yang ada pada vape. Sel-sel tersebut pada akhirnya cenderung menjadi radang.

“Studi kami menunjukkan bahwa uap rokok elektrik menyebabkan perubahan dalam lingkungan mulut dan sangat memengaruhi kolonisasi biofilm mikroba kompleks. Ini meningkatkan risiko peradangan dan infeksi mulut,” katanya.

Dengan hasil ini, penulis penelitian mengungkapkan diperlukan studi lebih lanjut untuk memahami bagaimana aerosol dari vape berinterakti dengan bakteri tertentu dalam mulut, sehingga berimplikasi terhadap kesehatan mulut, bahkan pernapasan hingga jantung sebagaimana hasil temuan penelitian-penelitian sebelumnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rokok elektrik Industri Vape
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top