Badak Jawa./JRE
Fashion

JRE Luncurkan Buku Fotografi Ekspedisi Badak Jawa

Gloria Fransisca Katharina Lawi
Rabu, 23 September 2020 - 12:57
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -- Dalam rangka merayakan Hari Badak Sedunia, atau World Rhino Day 2020, Javan Rhino Expedition (JRE) dari PT Storia Suksesindo Projekta meluncurkan dokumentasi berjudul Surviving in Silence.

JRE juga bekerjasama dengan Balai Taman Nasional Ujung Kulon (BTNUK) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan didukung oleh mitra media dari National Geographic Indonesia, Travelink, komunitas Indonesia Wildlife Photography, komunitas Photography From Home, Rumah Tukik dan Yayasan Matahati Cakra Hadiraksa serta kampus Universitas Tarumanagara Jakarta, meluncurkan hasil karya ekspedisi yang juga bertepatan dengan setahun perjalanan kegiatan JRE yang menyoroti upaya konservasi badak Jawa.

Saat ini ada lima jenis badak yang tersisa di dunia merupakan satwa terancam punah. Dua dari kelima jenis badak tersebut berada di Indonesia, yaitu Badak Sumatera dan Badak Jawa.

Berbeda dengan Badak Sumatra yang kantong populasinya tersebar di beberapa provinsi yang ada di Pulau Sumatra dan Kalimantan, Badak Jawa hanya memiliki satu habitat di dunia yaitu Taman Nasional Ujung Kulon setelah subspesiesnya dinyatakan punah di Vietnam pada 2010 lalu.

Saat ini, berdasarkan data Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Agustus 2020, populasi Badak Jawa yang tersisa hanya 74 ekor saja. Berbagai macam ancaman mengintai badak maupun “rumah terakhirnya”. Beberapa masalah yang teridentifikasi seperti ancaman bencana alam, distribusi pakan yang menurun, ancaman penyakit, dan menurunnya kualitas genetik dihadapi badak bercula satu ini.

Ekspedisi Badak Jawa ini bertujuan untuk mendokumentasikan cerita tentang proses menemukan Badak Jawa di habitat terakhirnya, dan merekam sudut pandang inspiratif dunia konservasi baik dari masyarakat ataupun lembaga ke dalam bentuk tulisan, foto, dan film dokumenter.

Karya yang lahir dari ekspedisi ini kemudian dapat digunakan untuk kegiatan kampanye dan penyadartahuan tentang konservasi Badak Jawa untuk masyarakat luas.

Di era digital, media fotografi dan video dianggap sebagai media yang tepat untuk menarasikan perjalanan ekspedisi dan penyampaian pesan konservasi untuk masyarakat umum. Hal ini dikarenakan gaung penyebarluasan materi yang tertangkap melalui kedua platform tersebut dapat bersifat masif dan viral, yang merupakan inti dari momentum sebuah peringatan.

Kepala Balai TNUK, Anggodo menyatakan bahwa Badak Jawa hanya dapat ditemukan di Semenanjung Ujung Kulon. Untuk melihat langsung diperlukan izin khusus sehingga tidak akan mengganggu perilaku dan habitatnya, serta selama melaksanakan ekspedisi diperlukan kehati-hatian.

Anggodo menyambut baik dan sangat mendukung kegiatan ekspedisi ini. Dia berharap kegiatan ini akan meningkatkan atensi masyarakat terhadap upaya konservasi Badak Jawa, baik yang dilakukan oleh lembaga maupun masyarakat luas dalam bentuk kampanye penyadartahuan.

"Kampanye penyadartahuan konservasi Badak Jawa merupakan bagian yang penting untuk keberlanjutan program pelestarian Badak Jawa karena masyarakat luas akan terus diingatkan akan kegentingan upaya penyelamatan Badak Jawa sehingga mereka diharapkan dapat berperan aktif untuk mendukung upaya konservasi Badak Jawa,” pungkas Anggodo dari siaran pers, Rabu (23/9/2020).

Ekspedisi badak Jawa di dalam TNUK dimulai tepat pada Hari Badak Sedunia pada tanggal 22 September hingga 6 Oktober 2019 bersama tim gabungan dari JRE, petugas dari TNUK, dan masyarakat lokal.

buku fotographi badak jawa
buku fotographi badak jawa

Tim melakukan ekspedisi dengan menggunakan dua metode yaitu metode ranggon (rumah pohon) dan metode susur sungai dengan menggunakan perahu karet. Ekspedisi kemudian dilanjutkan oleh tim JRE ke desa penyangga pada tanggal 27 Oktober – 1 November 2019 untuk mendokumentasikan masyarakat lokal desa penyangga TNUK sebagai upaya penggalian pandangan mereka terhadap konservasi badak Jawa.

Koordinator tim ekspedisi JRE, David Herman Jaya, menyampaikan bahwa dalam pelaksanaan Javan Rhino Expedition, tim JRE menghadapi tantangan untuk dapat merangkum cerita dan menuturkan kepada publik intisari dari sebuah perjalanan konservasi.

“Bukan hanya sekadar pengambilan visual, namun juga bersama para ahli masyarakat lokal, kami mencoba berdiskusi lebih jauh tentang hal baik apa yang perlu dan bisa menjadi masukan agar upaya pelestarian Badak Jawa terus berkembang kedepannya,” ungkap David.

Kegiatan ekspedisi ini juga berfungsi sebagai alat penyadartahuan dan komunikasi kepada masyarakat luas terhadap pentingnya upaya konservasi Badak Jawa. Kegiatan ini juga memberikan wawasan terhadap upaya-upaya yang telah dilakukan oleh para penggiat konservasi Badak Jawa baik dari kelembagaan maupun masyarakat lokal.

Awalnya peluncuran karya ini direncanakan dirilis dalam bentuk pameran fotografi. Namun mengingat adanya pandemi Covid-19, pameran fotografi terpaksa diundur hingga waktu yang belum ditentukan.

Meskipun demikian, tim JRE tetap meluncurkan buku fotografi jurnal ekspedisi yang berjudul “Surviving in Silence”, disertai serangkaian acara virtual berbentuk seri webinar tematik yang akan mengundang narasumber dari pihak BTNUK, ahli Badak Jawa, masyarakat lokal, media, dan komunitas untuk memberikan pandangan mereka terhadap pelibatan berbagai pihak dalam upaya kampanye penyadartahuan yang bersifat holistik.

Melalui karya fotografi publik harus diingatkan dan dilibatkan secara langsung dan tidak langsung baik dalam penyebaran informasi maupun keterlibatan dalam konservasi agar isu konservasi Badak Jawa tetap menjadi isu yang relevan dalam pelestarian satwa liar di Indonesia.

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro