Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Film Jagal, Dokumenter Eksekutor Para Terduga Simpatisan PKI

Kisah Anwar Congo terkuak dalam film besutan Joshua Oppenheimer, Jagal (The Act of Killing).
Newswire
Newswire - Bisnis.com 30 September 2021  |  12:34 WIB
Film Jagal, Dokumenter Eksekutor Para Terduga Simpatisan PKI
Jagal (The Act of Killing) - Hulu
Bagikan

Bisnis.com, SOLO - Bersamaan dengan tibanya tanggal 30 September, peristiwa G30S/PKI pun kembali menjadi topik yang hangat diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia.

Seperti yang diketahui, peristiwa tersebut merupakan bagian dari sejarah kelam Indonesia lantaran terdapat ratusan ribu terduga simpatisan PKI yang ditangkap, dipenjara, diasingkan, hingga dibunuh antara tahun 1965-1966.

Sayangnya, hingga saat ini dalang peristiwa 30 September masih simpang siur. Namun begitu, terdapat beberapa film mengangkat kontranarasi atas film Pengkhianatan G30S/PKI yang menyudutkan PKI.

Jagal (The Act of Killing) yang disutradarai oleh Joshua Oppenheimer adalah salah satunya.

Film yang ditayangkan pada 2012 tersebut mengambil perspektif dari mata Anwar Congo, seorang mantan algojo orang-orang yang tertuduh PKI pada 1965.

Sebelum dikenal sebagai algojo, Anwar Congo adalah seorang preman bioskop di Medan. Keputusannya untuk menjadi eksekutor para tertuduh simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) berkaitan dengan profesinya tersebut.

Saat itu, para simpatisan PKI di Medan aktif dalam memboikot penayangan film-film Amerika Serikat. Padahal, film-film tersebut tengah mendominasi pasar.

Tak pelak, pendapatan Anwar sebagai preman bioskop yang aktif menjajakan tiket ilegal pun menurun.

Dalam film ini, Anwar Congo lalu rela melakukan reka adegan tentang aksi-aksi pembunuhan yang dulu dilakukannya.

Dilansir dari Majalah Tempo, Joshua Oppenheimer mengungkapkan bahwa Anwar Congo menganggap membunuh adalah bagian dari aktingnya dalam film tersebut. Setiap aksi pembunuhan yang diperagakan ulang Anwar Congo merupakan hal yang memang benar-benar ia lakukan dahulu.

Lebih jauh, selain memeragakan pembunuhan, Anwar Congo juga tampak berdansa di kantor pribadinya. Padahal, di tempat tersebut, Anwar biasa membunuh dan menyiksa para korbannya.

Menurut Joshua, sebagaimana dilansir dari Majalah Tempo, Anwar berdansa sebagai bentuk impunitas yang kini ia nikmati. Dansa merupakan cara bagi Anwar untuk melupakan hal-hal keji yang telah dilakukannya pada simpatisan PKI.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Film film dokumenter g30s/pki

Sumber : Tempo

Editor : Aliftya Amarilisya
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top