Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

1 dari 3 Anak Usia SD di Jakarta Kekurangan Vitamin D, Apa Saja Faktornya?

Kurangnya kadar vitamin D pada tubuh anak dapat dipicu oleh sejumlah hal, yakni kebiasaan untuk menghindari sinar matahari, melakukan banyak kegiatan di dalam ruangan, dan polusi udara.
Szalma Fatimarahma
Szalma Fatimarahma - Bisnis.com 23 Mei 2022  |  03:00 WIB
Sejumlah murid SD kelas 1 meneriakan 'yel-yel' saat melakuka perkenalan sekolah pada hari pertama masuk sekolah di SDN Minasaupa Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (18/7/2016). - Antara
Sejumlah murid SD kelas 1 meneriakan 'yel-yel' saat melakuka perkenalan sekolah pada hari pertama masuk sekolah di SDN Minasaupa Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (18/7/2016). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia merupakan salah satu negara beriklim tropis yang sepanjang musimnya selalu mendapatkan paparan sinar matahari. Kendati demikian, diketahui sebanyak satu dari tiga anak usia SD di Jakarta diketahui kekurangan vitamin D.

Melalui Instagram pribadinya @amanpulungan, Profesor Ilmu Kesehatan Anak Prof. Aman Bhakti Pulungan menyebutkan bahwa salah satu faktor yang paling memengaruhi kadar vitamin D pada anak-anak ialah lamanya paparan sinar matahari.

Tidak hanya itu, melalui unggahan tersebut, Aman juga menyampaikan bahwa kadar vitamin D pada tubuh anak juga dipengaruhi oleh beberapa hal lainnya, seperti indeks massa tubuh dan penggunaan tabir surya (sunscreen).   

Kurangnya kadar vitamin D pada tubuh diketahui dapat dipicu oleh sejumlah hal, yakni kebiasaan untuk menghindari sinar matahari, melakukan banyak kegiatan di dalam ruangan, dan polusi udara.

Kebiasaan-kebiasaan tersebut mampu mengurangi pembuatan vitamin D pada kulit. Hal ini menyebabkan diperlukannya tambahan asupan vitamin D pada tubuh yang didapatkan dari makanan ataupun suplemen.

Lalu, kapan anak-anak dapat dinyatakan mengalami kekurangan vitamin D?

Menurut data Panduan Praktik Klinis IDAI yang dikeluarkan pada 2018, kadar vitamin D dalam darah dapat diukur dalam bentuk 25-hidroksi vitamin D.

Pertama, kadar vitamin D yang berada pada angka 30-100 ng/ml tergolong dalam kadar vitamin D yang bersifat normal.

Kedua, jika kadar vitamin D pada tubuh berada pada angka 21-29 ng/ml, maka kadar vitamin D dalam tubuh bersifat insufisiensi atau tidak cukup. Angka tersebut menunjukkan bahwa seseorang berpotensi untuk mengalami kekurangan vitamin D.

Ketiga, kadar vitamin D yang berada pada angka <20 ng/ml atau defisiensi. Keadaan ini menunjukkan bahwa seseorang telah kekurangan vitamin D karena tubuhnya tidak mendapatkan asupan vitamin D yang cukup. Kondisi terakhir adalah defisiensi berat atau keadaan di mana kadar vitamin D dalam tubuh sudah berada di bawah 5 ng/ml.

Dikutip dari Instagram @amanpulungan, Minggu (22/5/2022), untuk mengatasi defisiensi vitamin D pada anak, orang tua dapat memberikan vitamin D dalam dosis tinggi, yang sesuai dengan anjuran dokter. Berikut merupakan aturan pemberian vitamin D pada anak.

Usia 0-1 tahun diberikan vitamin D 2000 IU/hari atau 50.000 IU/minggu selama 6 minggu. Hal ini ditujukan untuk mencapai kadar vitamin D diatas 30 ng/ml. Untuk selanjutnya, anak-anak tersebut dapat diberikan vitamin D dengan dosis 400-1000 IU/hari.

Usia 1-18 tahun diberikan vitamin D 4000 IU/hari atau 50.000 IU/minggu selama 6 minggu, guna mencapai kadar vitamin D di atas 30 ng/ml. Untuk selanjutnya, diberikan dengan dosis 600-1000 IU/hari.

Sekedar informasi, kadar vitamin D dalam tubuh dapat dikatakan normal jika banyak paparan sinar matahari yang diterima tubuh ialah sebanyak 400 IU.

Jika seseorang berpotensi untuk mengalami defisiensi, maka untuk umur 0-1 tahun harus mendapatkan asupan vitamin D sebanyak 400 IU, sedangkan untuk umur di atas satu tahun harus mendapatkan asupan vitamin D sebesar 600 IU/hari untuk mengoptimalkan kesehatan tulang dan fungsi otot.

Vitamin D diketahui memiliki sejumlah fungsi penting bagi tubuh, seperti menjaga kesehatan tulang, otot, dan jantung, menjaga sistem imun tubuh, mengurangi risiko diabetes melitus, mengurangi risiko kanker, membantu regulasi inflamasi, serta menjaga kadar kalsium dalam tubuh.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kesehatan anak kesehatan anak sekolah dasar
Editor : Yustinus Andri DP

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top