Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Fakta-Fakta HIV dan Aids, Kamu Wajib Tahu!

HIV dan Aids memiliki gejala yang beragam, tergantung pada stadium yang diderita.
Ileny Rizky
Ileny Rizky - Bisnis.com 01 Desember 2022  |  16:51 WIB
Fakta-Fakta HIV dan Aids, Kamu Wajib Tahu!
Hari AIDS Sedunia - timeandate
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi suatu hal yang sangat menyeramkan bagi masyarakat global. Pasalnya puluhan juta orang dikabarkan meninggal akibat masalah ini.

Dilansir dari situs Organisasi kesehatan dunia (WHO), Kamis (1/12/2022), HIV memiliki gejala yang beragam, tergantung pada stadium yang diderita. Akibatnya, banyak diantara mereka yang tidak menyadari jika status mereka telah sampai tahap yang tinggi.

Berdasarkan catatan WHO, saat ini HIV telah menewaskan sebanyak 40,1 juta  nyawa. Pada tahun 2021, dilaporkan sebanyak 650 ribu orang telah meninggal dunia dan sebanyak 1,5 juta orang dikatakan telah tertular HIV.

Dalam penyebarannya, di beberapa minggu pertama setelah infeksi awal, penderita mungkin akan mengalami gejala atau penyakit seperti influenza termasuk demam, sakit kepala, ruam, atau sakit tenggorokan.

Karena infeksi yang semakin melemahkan sistem kekebalan, HIV dapat mengembangkan tanda dan gejala lain, seperti pembengkakan kelenjar getah bening, penurunan berat badan, demam, diare, dan batuk. 

Jika masalah ini dibiarkan tanpa pengobatan, maka penderita akan mendapati risiko yang lebih parah seperti tuberkulosis (TB), meningitis kriptokokus, infeksi bakteri parah, dan kanker seperti limfoma dan sarkoma kaposi.

Fakta-fakta HIV dan AIDS:

1. HIV bukan AIDS, melainkan virus penyebab AIDS

Sering dianggap sama, HIV itu sebenarnya berbeda dengan AIDS. Melansir Healthline, HIV merupakan virus yang dapat menyebabkan kondisi AIDS, atau yang juga dikenal sebagai HIV stadium 3.

HIV merupakan virus yang dapat menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh. Sementara HIV adalah virus yang dapat menyebabkan infeksi, jadi AIDS (sindrom imunodefisiensi) merupakan kondisi yang didapat setelah terserang virus HIV.

AIDS, atau HIV stadium 3, berkembang ketika HIV telah menyebabkan kerusakan serius pada sistem kekebalan tubuh.

2. Tidak ada obat untuk infeksi HIV

Penyakit HIV dapat dikelola dengan rejimen pengobatan yang terdiri dari kombinasi obat antiretroviral (ARV). Terapi antiretroviral saat ini tidak menyembuhkan infeksi HIV, melainkan hanya menekan replikasi virus dan memungkinkan pemulihan sistem kekebalan individu untuk memperkuat dan mendapatkan kembali kapasitas untuk melawan infeksi oportunistik dan beberapa jenis kanker.

WHO sejak tahun 2016, telah merekomendasikan 'Treat All" atau perlakuan semua. Upaya ini dilakukan agar semua penderita HIV dapat diberikan ART seumur hidupnya.

Kemudian pada bulan Juni lalu, 189 negara di dunia telah mengadopsi rekomendasi ini. Rencana ini mencakup 99 persen dari semua orang yang hidup dengan HIV secara global.

Selain strategi Treat All, WHO juga merekomendasikan inisiasi ART cepat untuk penderita HIV. Kemudian WHO juga menawarkan ART pada hari yang sama dengan memberikan diagnosis kepada penderita yang siap memulai pengobatan. Pada Juni 2022, tercatat sebanyak 97 negara telah mengadopsi kebijakan ini. 

3. Diagnosis HIV lebih mudah dibandingkan AIDS 

Pada penularan HIV, sistem kekebalan akan menghasilkan antibodi terhadap virus. Tes darah atau tes air liur dapat mendeteksi antibodi untuk menentukan apakah terdapat adanya virus atau tidak. Namun, tes ini membutuhkan waktu hingga beberapa minggu setelah penularan, agar tes antibodi HIV dapat kembali positif.

Adapun cara lain untuk mencari antigen adalah dengan tes protein, yang diproduksi oleh virus dan antibodi. Tes ini dapat mendeteksi HIV hanya dalam beberapa hari setelah infeksi. Kedua tes tersebut akurat dan mudah dijalankan.

Sementara itu, tim medis perlu mencari beberapa faktor untuk dapat menentukan apakah latensi HIV telah berkembang menjadi HIV stadium 3 (AIDS).

Karena HIV menghancurkan sel kekebalan yang disebut sel CD4 , salah satu cara untuk mendiagnosis AIDS adalah dengan menghitung jumlah sel tersebut. Seseorang tanpa HIV dapat memiliki 500 hingga 1.200 sel CD4. Ketika sel telah turun menjadi 200, seseorang dengan HIV dianggap memiliki HIV stadium 3.

Faktor lain yang menandakan bahwa AIDS telah berkembang adalah adanya infeksi oportunistik . Infeksi oportunistik adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, jamur, atau bakteri yang tidak akan membuat seseorang dengan sistem kekebalan yang tidak rusak menjadi sakit.

4. Wanita dan Bayi dapat tertular HIV

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mengatakan bahwa siapapun dapat berisiko tertular HIV. Bahkan, perempuan yang hamil dan mengidap HIV/AIDS, bisa saja menularkan HIV kepada anaknya yang belum lahir.

Selain itu, perempuan yang pengidap HIV juga dapat menularkan virus tersebut saat melahirkan dan saat menyusui.

5. HIV tidak dapat ditularkan oleh gigitan nyamuk

Menurut CDC, HIV tidak dapat tertular dari gigitan atau sengatan serangga. Selain itu, CDC mengungkapkan bahwa seseorang tidak dapat tertular HIV dari ciuman mulut tertutup atau lewat kontak dengan keringat atau air mata orang yang terinfeksi.

6. HIV umumnya dipicu oleh aktivitas seksual yang tinggi 

Menurut WHO, terdapat beberapa penyebab dari HIV yaitu:

– Aktivitas seksual yang tinggi

– Melakukan seks anal atau vaginal tanpa kondom

– Menderita infeksi menular seksual (IMS) lain seperti sifilis, herpes, klamidia, gonore dan bakterial vaginosis

–  Pengguna alkohol dan obat-obatan terlarang dalam konteks perilaku seksual

– Berbagi jarum suntik yang terkontaminasi dengan peralatan suntik lainnya, serta larutan obat saat menyuntikkan narkoba

– Menerima suntikan yang tidak aman, transfusi darah dan transplantasi jaringan, dan prosedur medis yang melibatkan pemotongan atau penindikan yang tidak steril

– Mengalami cedera jarum suntik yang tidak disengaja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hiv/aids hiv aids hiv who tuberkulosis
Editor : Novita Sari Simamora
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top