Ilustrasi seseorang yang tidak bahagia/Freepik.com
Health

Dinkes DKI Jakarta Siapkan Layanan Kesehatan Mental untuk Caleg dan Timses Pascapemilu

Mutiara Nabila
Jumat, 16 Februari 2024 - 08:04
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemilihan umum telah usai, seluruh pihak mulai dari calon legislatif (Caleg), Anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), sampai Tim Sukses pasti sudah bekerja keras aga pemilu berjalan lancar. 

Pada prosesnya, seluruh pihak yang terlibat bekerja keras, hingga menyebabkan kelelahan secara fisik dan psikis, telat makan, hal ini juga dapat berdampak pada gangguan mental baik yang ringan bahkan sampai berat.

Beruntung, tak seperti pemilu sebelumnya di mana banyak petugas KPPS yang ambruk, dilaporkan ribuan orang jatuh sakit bahkan hingga 800-an orang meninggal dunia. Tahun ini, meskipun masih ada kasus, namun sudah lebih baik dari tahun lalu. 

Selain dari asupan makanan yang lebih baik, juga dari program-program yang dilakukan menjelang dan saat pelaksanaan pemilu seperti Senam KPPS, peregangan setiap 2 jam sekali, pemeriksaan kesehatan, dan lainnya. 

Untuk mencegah hal-hal buruk terjadi terkait kesehatan mental pada anggota KPPS, Caleg, dan Timses pascapemilu, Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Kementerian Kesehatan juga telah menyiapkan layanan khusus. 

Praktisi Kesehatan Masyarakat dr. Ngabila Salama, MKM menyebutkan bahwa Kementerian Kesehatan sudah menginstruksikan ke seluruh fasilitas kesehatan untuk berpartisipasi dan antisipatif dalam hal jika ada keluhan fisik dan mental. 

Untuk pencegahan penyakit mental, ada CERIA yang bisa dilakukan setiap hari, yaitu Cerdas emosional, intelektual, dan spiritual, Empati, Rajin beribadah, Iteraksi yang bermanfaat, dan Asah asih asuh dalam keluarga dan masyarakat. 

"Selain itu, kita juga harus mengambil hikmah positif dari berbagai peristiwa, ini yang kadang masyarakat sulit lakukan, kalau nyaleg kalah selalu merasa kok nggak beruntung, kok sial banget. Nah, itu kita coba gali sisi positif dari diri kita, itu bisa membuat kita tidak overthinking," ujarnya dalam Talkshow Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Kamis (15/2/2024). 

Sementara, jika sudah terlanjur mengalami sakit, penting untuk melakukan deteksi dini, yang bisa dilakukan salah satunya di DKI Jakarta melalui ada E-Jiwa yang bisa diakses melalui aplikasi JAKI. 

"E-Jiwa bisa membantu mendeteksi apakah kita mengalami gangguan jiwa secara online dengan mengisi kuesioner. Nanti dideteksi, kalau ada potensi masalah kejiwaan, akan diarahkan untuk konsultasi online dengan psikolog yaitu Sahabat Jiwa, yang bentuknya chatting," jelasnya. 

Selain itu, RS Soeharto Heerdjan pada 20 Februari 2024 mendatang bersama Kemenkes dan RSUD Taman Sari akan mengadakan skrining kejiwaan dengan menggunakan alat HRV (Heart Rate Variability) Test. 

Dalam tes tersebut, selama 3 menit pasien akan dilihat apakah punya gangguan stres dan akan dikonseling hasilnya dengan psikolog klinis dan psikiater. Jika ada yang mengalami gangguan jiwa, akan dirujuk ke puskesmas kecamatan yang punya psikolog klinis dan dapat diakses secara gratis. 

Adapun, jika gangguan yang dialami menjadi berat dan butuh obat-obatan, akan dirujuk ke rumah sakit RSUD yang memiliki psikiater termasuk RS Soeharto Heerdjan, yang nanti bisa memberikan obat-obatan bahkan juga perawatan rawat inap. 

dr. Ngabila menegaskan, yang paling penting adalah bagi masyarakat agar menghilangkan stigma jika melihat seseorang mengalami gangguan mental. 

"Selain itu, jika merasa sakit atau tidak beres dengan kesehatan badan, baiknya segera konsultasikan ke dokter. Jangan malu, jangan mager [malas gerak] agar gejala yang dirasakan tidak semakin berat dan bisa segera diobati hingga sembuh," imbuhnya.

Penulis : Mutiara Nabila
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro