Hati-hati, Obat Pelangsing Picu Hipertensi Paru

Berbeda dengan hipertensi atau tekanan darah tinggi pada umumnya, hipertensi paru atau pulmonary hypertension lebih spesifik mengenai pembuluh darah arteri di paru-paru yang menghubungkannya ke jantung.
Dewi Andriani | 30 September 2018 00:21 WIB
Hipertensi - health.family.my

Banyak perempuan yang tergiur mengonsumsi obat pelangsing untuk membentuk tubuhnya menjadi lebih ideal secara instan. Namun, siapa sangka jika obat pelangsing ternyata menjadi salah satu penyebab munculnya penyakit hipertensi paru.

Berbeda dengan hipertensi atau tekanan darah tinggi pada umumnya, hipertensi paru atau pulmonary hypertension lebih spesifik mengenai pembuluh darah arteri di paru-paru yang menghubungkannya ke jantung.

Tekanan darah yang tinggi pada paru-paru terjadi karena saluran arteri pulmonalis menyempit, tersumbat, atau menebal. Hal ini menyebabkan aliran darah dari sisi kanan jantung yang menuju ke paru-paru untuk mengambil oksigen dan disebarkan ke semua organ menjadi terganggu.

Akibatnya, darah akan sulit mengalir ke paru-paru dan tekanan pada arteri paru juga meningkat sehingga bilik kanan jantung harus bekerja ekstra keras untuk memompa darah menuju paru-paru.

Ahli hipertensi paru dari RS Sardjito Yogyakarta Lucia Kris Dinarti mengatakan obat pelangsing memiliki zat yang dinamakan serotonin. Zat ini, sambungnya, jika dikonsumsi secara terus menerus akan menyebabkan pembuluh darah di paru-paru menyempit.

Gejala awalnya, penderita akan merasa sesak nafas. Namun, kondisi ini sering dikesampingkan karena hanya dianggap sebagai penyakit sesak biasa. Siapa sangka jika keluhan sesak napas tersebut merupakan tanda-tanda awal gejala penyakit hipertensi paru.

“Zat serotonin yang biasanya ada pada obat pelangsing berbahaya karena efek sampingnya bisa merusak organ pembuluh darah di paru-paru, sebagai salah satu penyebab hipertensi paru,” ujarnya.

Percepat Gerak Industri Film Lewat Aplikasi Daring

Selain obat pelangsing, hipertensi paru juga bisa disebabkan oleh berbagai hal mulai dari HIV/AIDS, pembekuan darah, penyakit autoimun seperti lupus, penyakit paru obstruktif kronis, dan yang menjadi penyebab utama adalah penyakit jantung bawaan.

Menurut dokter spesialis jantung ini terdapat tiga kelainan pada penyakit jantung bawaan pertama adanya lubang di sekat jantung. Lubang ini memang sudah ada sejak bayi masih dalam kandungan, tetapi sirkulasi tersebut akan tertutup saat lahir.

“Kalau dia tidak menutup maka akan menimbulkan persoalan karena adanya lubang maka darah yang ada di jantung kiri akan mengalir ke jantung kanan sehingga akan menambah aliran darah ke jantung kanan,” ujarnya.

Kedua, adanya lubang di sekat antar bilik, ini juga akan menimbulkan persoalan yang sama yaitu adanya penambahan alirah darah di jantung kanan sehingga membuat jantung kanan membengkak.

Kelainan ketiga yaitu adanya lubang di luar jantung, juga menyebabkan aliran darah dari jantung kiri ke kanan yang akan memberi beban pada pembuluh darah di paru sehingga bisa menyebabkan hipertensi paru. Oleh karena itulah, sambungnya, perlu adanya deteksi awal hipertensi paru karena gejalanya sulit terlihat dari luar.

“Biasanya penderita akan merasa sesak napas yang tidak diketahui penyebabnya, secara berulang dan menyebabkannya lebih mudah merasa lelah, lemas hingga pingsan. Bisa juga terasa begah pada perut sebelah kanan.”

Alleira Batik Kolaborasi dengan Desainer Malaysia

KATETERISASI

Sementara itu, ahli hipertensi paru dari Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Bambang Budi Siswanto mengatakan hipertensi paru terjadi ketika tekanan darah paru mencapai di atas 25 mmHg, sedangkan tekanan darah normal pada arteri pulmonal biasanya berkisar antara 8 hingga 20 mmHg.

Menurutnya, untuk memeriksa tekanan darah pada paru berbeda dengan pemeriksaan tensi biasa. Pemeriksaan dilakukan melalui proses kateterisasi jantung kanan dengan biaya yang terbilang cukup mahal yaitu mencapai hingga Rp10 juta.

Sebelum dilakukan proses katerisasi dokter akan memulainya dengan serangkaian pemeriksaan. Mulai dari pengecekan detak jantung dengan stetoskop. Jika iramanya tidak beraturan dan terdapat tanda-tanda khusus, maka akan dilanjutkan dengan rontgen dada dan rekam jantung, tes darah, tes fungsi paru.

“Jika pada deteksi awal ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada hipertensi paru, harus dilakukan proses kateterisasi jantung kanan sebagai tes paling akurat untuk mendiagnosis hipertensi paru,” jelasnya.

Deteksi sedini mungkin menurutnya perlu untuk dilakukan untuk menghindari komplikasi lebih lanjut. Sebab, tingkat kematian hipertensi paru lebih tinggi dibandingkan kanker payudara dan kanker kolorektal.

BISNIS STARTUP: Agar Tak Sekadar Ikut Tren

Sementara itu, Ketua Yayasan Hipertensi Paru Indonesia Indriani Ginoto mengatakan dari data yang dihimpun YHPI selama beberapa tahun terakhir, prevalensi Hipertensi Paru di dunia adalah 1 pasien per 10.000 penduduk. Artinya diperkirakan terdapat 25.000 pasien hipertensi paru di Indonesia.

Menurut catatan YHPI, hipertensi paru lebih sering diderita anak-anak hingga usia dewasa pertengahan, juga lebih sering dialami perempuan dengan perbandingan 9:1, dengan mean survival sampai timbulnya gejala penyakit sekitar 2-3 tahun.

Banyaknya perempuan yang menderita hipertensi paru karena penyebab penyakit ini sebagian besar didasari oleh berbagai penyakit yang banyak diderita perempuan seperti lupus dan penyakit jantung bawaan.

“Sayangnya, penanganan hipertensi paru di Indonesia terkendala oleh berbagai faktor, termasuk belum luasnya kesadaran terhadap bahaya penyakit hipertensi paru karena dari sekitar 25.000 yang mungkin menderita hipertensi, baru 120 pasien yang aktif dari seluruh Indonesia sehingga banyak yang tidak terdeteksi,” ungkap Indriani.

Hal ini menyebabkan semakin banyak penderita yang meninggal dunia bahkan kurang dari 2 tahun. Di dunia, menurut Indriani, saat ini terdapat sekitar 14 jenis molekul obat hipertensi paru dan baru tersedia 4 jenis di Indonesia.  Dia berharap agar akses terhadap obat-obatan penyakit hipertensi paru termasuk obat-obatan golongan sildenafil dengan dosis tertentu dapat dipercepat implementasinya.

 

Tag : kesehatan, hipertensi
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top