Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Didi Kempot, Musisi Campursari Lintas Generasi

Kepergian pria Didi Kempot sudah barang tentu menjadi kehilangan besar bagi dunia musik Tanah Air, khususnya musik tradisional
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 05 Mei 2020  |  10:00 WIB
Didi Kempot, Musisi Campursari Lintas Generasi
Didi Kempot saat mengucapkan selamat perpisahan pada Djaduk Ferianto - instagram
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Penyanyi campursari kondang asal Solo, Didi Kempot, meninggal dunia Selasa (5/5/2020) pukul 07.45 WIB di Rumah Sakit (RS) Kasih Ibu, Surakarta, Jawa Tengah.

Kepergian pria Didi Kempot sudah barang tentu menjadi kehilangan besar bagi dunia musik Tanah Air, khususnya musik tradisional.

Adik kandung dari komedian Srimulat Alm. Mamiek Prakoso itu boleh dibilang sukses membuat campursari yang beberapa tahun lalu dianggap ketinggalan zaman, kampungan, atau identik dengan aliran musik untuk kalangan pinggiran—naik kelas.

Lewat lagu-lagunya yang sebagiann besar bercerita tentang seorang lelaki yang patah hati ditinggal pergi pasangannya, antara lain Pamer Bojo, Banyu Langit, Cidro, Sewu Kuto dan lainnya, Didi Kempot mulai mendapatkan tempat di hati muda-mudi urban.

Tak terkecuali mereka yang ada di ibukota. Seiring dengan kepopuleran lagu-lagu tersebut, tawaran manggung datang silih berganti, baik konser tunggal maupun festival musik.

Wajah Didi Kempot juga mulai menghiasi berbagai tayangan televisi nasional. Padahal sebelumnya, wajah pria berusia 54 tahun itu lebih banyak muncul di layar kaca yang terpasang dalam bus antarkota di Jawa bersama dengan penyanyi dan orkes dangdut koplo.

Apa yang terjadi dengan Didi Kempot saat ini tak terlepas dari peran penggemarnya, terutama dari kalangan muda-mudi yang dikenal dengan sebutan Sobat Ambyar. Lewat merekalah sebutan “The Godfather of Broken Heart” atau “Bapak Patah Hati” lahir dan akhirnya makin melambungkan nama pria yang sempat mengamen di bilangan Slipi, Jakarta Barat itu.

Sebagai catatan, lahirnya sebutan tersebut itu bukan tanpa alasan. Sobat Ambyar yang beranggotakan para Sad Boys dan Sad Girls, memberi gelar tersebut karena mayoritas lagu Didi Kempot menceritakan pedihnya patah hati.

Oleh karena itu, Didi Kempot selalu menyempatkan diri untuk menyapa dan berbincang sejenak dengan para Sobat Ambyar usai konser yang dia lakukan. Tak lupa dia juga selalu menghaturkan terimakasih dengan tambahan kata-kata khas, yaitu “tepuk tangan buat sampeyan (Anda) Sobat Ambyar” saat mengakhiri penampilannya.

Dia juga menyebut tak pernah membayangkan l bisa sedemikian populer dan digemari oleh mereka yang sebelumnya dianggap bukan pangsa pasar lagu-lagu dengan bahasa Jawa. Demikian halnya dengan saat melangsungkan konser, tak pernah disangka-sangka muda-mudi urban bisa larut dalam suasana dan menyanyikan lagu-lagunya dengan baik.

“Nyanyi di Jakarta tapi rasanya kok kayak bukan di Jakarta, penontonnya kok iso (bisa) nyanyi boso Jowo (bahasa Jawa) lancar kabeh (semuanya). Iki (ini) bukti kalau orang Jakarta nggak seperti yang saya kira sebelumnya, tidak suka dengan musik-musik tradisional seperti campursari Jawa,” katanya Didi Kempot di sela-sela konser tunggalnya di MBloc Space, Jakarta Selatan pada Februari lalu.

Populernya Didi Kempot di kalangan muda-mudi tak dapat dipungkiri banyak didukung oleh peran media sosial. Lagu-lagunya menjadi sorotan usai cuitan dari akun Twitter @AgusMagelangan milik penulis Agus Mulyadi pada pertengahan tahun lalu.

Kepopuleran Didi Kempot semakin menjadi-jadi usai tampil di salah satu vlog milik penyiar radio sekaligus Youtuber ternama, Gofar Hilman. Vlog bertajuk Ngobrol Bareng Musisi (Ngobam) sukses membuat kalangan muda-mudi edgy—yang selama ini menjadi penonton setia vlog Gofar Hilman—terhipnotis dan akhirnya menggandrungi lagu-lagu yang dinyanyikan Didi Kempot.

Pada akhirnya kepopuleran tersebut berhasil membawa Didi Kempot tidak hanya menjadi musisi saja. Dia beberapa waktu lalu didapuk sebagai salah satu brand ambassador perusahaan dagang el ternama dan juga Duta Anti Narkoba Badan Narkotika Nasional (BNN). Sungguh sebuah prestasi, terlebih di usianya yang sudah tidak lagi muda.

Harapannya sebetulnya tidak muluk-muluk. Dia ingin agar karya-karyanya yang menjadi bagian dari budaya Jawa abadi, tidak terlupakan begitu saja. Dia juga berharap agar makin banyak anak-anak muda yang mencintai serta menjaga dengan baik budaya dan seni tradisional Indonesia. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa seni tradisional bisa dibilang sebagai penjaga budaya Indonesia yang sudah sejak lama digempur oleh budaya-budaya luar negeri, khususnya budaya barat.

Pemersatu Sekaligus Obat Rindu

Tak bisa dipungkiri lagu-lagu berbahasa daerah yang populer hingga Ibukota mencerminkan bagaimana eratnya persatuan masyarakat masyarakat Indonesia dengan keragaman suku dan budayanya. Pasalnya, tak jarang lagu dengan bahasa daerah tertentu ikut disukai oleh mereka yang punya latar belakang suku dan budaya yang berbeda dengan lagu tersebut.

Salah satu diantaranya adalah Analya, mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta Selatan itu merupakan penggemar lagu-lagu campursari yang dinyanyikan oleh Didi Kempot. Dia mengaku selalu mengupayakan diri untuk datang ke konser Didi Kempot yang digelar di Jakarta dan sekitarnya bersama Sobat Ambyar lainnya.

Kegemarannya akan lagu-lagu Didi Kempot membuat Analya kerap kali disangka berlatarbelakang suku Jawa. Padahal, faktanya dia lahir dan dibesarkan di Jakarta serta sama sekali tak mempunyai darah Jawa.

“Saya ya sebenarnya orang Betawi, lahir dan gede di Jakarta. Suka lagu-lagu Didi Kempot karena teman. Awalnya ya nggak begitu paham artinya, lama-lama paham, eh kok pas atau relate sama kondisi saya yang baru saja patah hati,” ungkapnya saat di temui usai konser tunggal Didi Kempot yang digelar di Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Ditemui di kesempatan yang sama, Koordinator Sobat Ambyar Nusantara Herry Sasongko mengungkapkan hal senada. Menurut pria yang akrab disapa Herry Dagink itu, banyak penggemar lagu-lagu Didi Kempot yang bukan berlatar belakang suku Jawa, bahkan beberapa diantaranya malah tidak bisa berbahasa Jawa.

“[Mereka] yang suka lagu-lagu Didi Kempot, termasuk Sobat Ambyar ini ada banyak yang bukan orang Jawa. Contohnya, ada yang dari Jakarta atau Papua, mereka ini sempat kuliah di Yogyakarta sering mendengar tak sengaja [lagu-lagu Didi Kempot] disana dan akhirnya suka,” tuturnya.

Lain halnya dengan Wahyuningsih, perempuan paruh baya yang tinggal di Jakarta Selatan itu mengaku sudah sejak lama menggemari lagu-lagu Didi Kempot, terutama yang bercerita tentang kota asalnya, Surakarta, Jawa Tengah. Dia sengaja datang ke konser Didi Kempot bersama dengan sang suami, Mulyono untuk bernostalgia dan mengobati rindunya akan kota yang akrab disebut Solo itu.

“Saya dan suami memang asli dari Solo, datang ke konser ini ya untuk kangen-kangenan dengan suasana Solo. Euforia konser ini seperti bukan di Jakarta, semua penonton berjoget dan lancar menyanyikan lagu-lagu Didi Kempot, termasuk yang muda-muda milenial ya,” katanya.

Selain menyatukan masyarakat dari suku dan budaya yang berbeda, musik juga sukses menghilangkan sekat-sekat antargenerasi Z, milenial, hingga baby boomers. Buktinya sederhana saja, cukup lihat bagaimana asyiknya Wahyuningsih dan Mulyono tak malu-malu bernyanyi dan berjoget menikmati konser Didi Kempot bersama penonton yang seumuran dengan anak-anak mereka

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

campur sari didi kempot
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top