Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Upaya Tangani Sampah Plastik, Ini yang Dilakukan Peritel

Untuk menjaga lingkungan, pemerintah menargetkan pengurangan 70 persen sampah plastik pada 2025.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 24 Februari 2021  |  20:24 WIB
Peritel modern, Super Indo sedang melakukan pengurangan sampah plastik. - ilustrasi
Peritel modern, Super Indo sedang melakukan pengurangan sampah plastik. - ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Masih ingatkah Anda dengan peristiwa TPA Leuwigajah? Gunungan sampah sepanjang 200 meter, setinggi 60 meter seketika longsor mengubur 2 desa dan menewaskan 157 juta jiwa.

Beranjak pada peristiwa ini, pemerintah pun menetapkan pada 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPN). Persoalan sampah memang belum ada habisnya. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Syailendra mengatakan dari data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas) dan Badan Pusat Statistik (BPS) 2019, Indonesia menghasilkan 64 juta ton sampah per tahunnya.

Sementara itu, sebanyak 3,2 juta ton diantaranya merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut dan 10 miliar lembar atau 85.000 ton sampah plastik terbuang ke lingkungan setiap tahunnya.

Ya, kita tidak bisa menutup mata pada persoalan ini. Apalagi, butuh waktu 10-20 tahun agar sampah plastik bisa terurai sementara kata Syailendra, butuh 450 tahun sampah botol plastik bisa terbaur.

Oleh karena itu, pemerintah katanya menargetkan pengurangan 70 persen sampah plastik pada 2025. Ada 3 upaya yang bisa dilakukan. Pertama minim sampah dengan melakukan pembatasan dan pengurangan sampah plastik, misalnya dengan membawa kantong belanja sendiri dan tidak menggunakan sedotan.

Kedua, upaya untuk mendaur ulang sampah menjadi bijih plastik agar bisa digunakan kembali. "Ketiga, teknologi tinggi. yaitu sampah dipilah dapat dijadikan daya listrik," ujarnya dalam dialog virtual bertajuk 'New Ways of Shopping: Rethink & Reuse' yang digelar Super Indo, Rabu (24/2/2021).

Dia menyebut penyumbang sampah plastik terbesar berasal dari aktivitas bisnis retail. Data dari KLHK selama 2016, retail modern menghasilkan 9,85 miliar lembar sampah kantong lastik per tahun.

Untung saja, saat ini sejumlah daerah telah mengeluarkan kebijakan pembatasan pengurangan plastik, terutama di retail modern. Pada 2019 pun Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengeluarkan kebijakan kantong plastik berbayar yang mudah terurai atau kantong belanja yang bisa digunakan kembali.

Selaras dengan upaya pengurangan sampah plastik, Super Indo meluncurkan produk ramah lingkungan terbaru yang disebut sebagai 'Kantong Segar 365'  sebagai alternatif pengganti roll plastic ketika pelanggan berbelanja produk segar seperti sayur, buah, dan telur di gerai ritel ini. Peluncuran prouk baru ini merupakan bagian dari kampanye besar #SelangkahLebihHijau,

"Ini juga sebagai bentuk dukungan Super Indo kepada pemerintah sebagai komitmen dan perwujudan dari pengelolaan sampah berkelanjutan di bisnis ritel melalui pelaksanaan ekonomi sirkular,” tutur Chief Executive Officer Super Indo Johan Boeijenga.

Head of Corporate Affairs & Sustainability Super Indo Yuvlinda Susanta menjelaskan Super Indo percaya bahwa sampah tidak boleh dilihat sebagai sumber pencemaran lingkungan yang harus dibuang begitu saja ke tempat pembuangan sampah atau dibakar di insinerator. Pasalnya hal tersebut dapat menyebabkan masalah pencemaran lainnya.

"Sampah ini juga memberi kita kesempatan untuk mencari solusi dengan melibatkan masyarakat, dengan menciptakan inovasi terbaru dalam menangani sampah, dan yang tidak kalah pentingnya, melibatkan perubahan perilaku dan kesadaran masyarakat," sebutnya.

Super Indo saat ini juga sedang mengembangkan model pengumpulan pembuangan sampah kemasan plastik (Drop Box) bersama salah satu pemasok utamanya, Frisian Flag Indonesia. Program ini didesain untuk memudahkan pelanggan menjadi bagian dari rantai daur ulang kemasan plastik sekali pakai dengan cara yang menyenangkan.

“Dalam momen yang baik ini, kami mengajak semua pihak, untuk berkolaborasi guna menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi Indonesia," tutup Yuvlinda.  

Kasubdit Barang dan Kemasan Direktorat Pengelolaan Sampah Ditjen (PSLB3) KLHK Ujang Solihin Disik menyebut ada 3 stakeholder utama yang bertanggung jawab dalam pengelolaan sampah. Antara lain pemerintah, masyarakat, dan tentunya dunia usaha.

Oleh karena itu, Ujang mengapresiasi langkah Super Indo yang membuat program baru dalam penanganan sampah plastik. "Super Indo selalu selangkah bahkan 3 langkah ke depan dibanding ritel lain terkait kepedulian lingkungan," tegasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lingkungan lingkungan hidup pencemaran lingkungan aktivis lingkungan
Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top