Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Terbukti, Stres Picu Covid-19 Makin Parah

Salah satu faktor terpenting yang memprediksi siapa yang sakit, dan siapa yang tetap sehat adalah stres kejiwaan yang berkepanjangan.
1

Hasil Penelitian

Tangkapan layar- Ilustrasi Virus Corona varian Omicron. JIBI - Bisnis/Nancy Junita
Tangkapan layar- Ilustrasi Virus Corona varian Omicron. JIBI - Bisnis/Nancy Junita
Bagikan

Psikolog Sheldon Cohen dan rekan-rekannya telah melakukan penelitian pada sejumlah orang seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Sabtu (25/12/2021). Cohen meneliti beberapa orang sehat yang kemudian diberi tetesan virus ke hidung mereka. Peserta kemudian dikarantina di hotel dan dipantau secara ketat untuk menentukan siapa yang sakit dan siapa yang tidak.

Salah satu faktor terpenting yang memprediksi siapa yang sakit, dan siapa yang tetap sehat adalah stres kejiwaan yang berkepanjangan.

Individu dengan stresor (fakfor penyebab stres) yang bertahan selama enam bulan hingga dua tahun atau hampir sepanjang masa pandemi sejauh ini, menunjukkan hampir tiga kali lebih mungkin menjadi sakit akibat infeksi dibandingkan mereka yang tidak stres.

Fenomena ini secara khusus didorong oleh stresor yang umum saat ini, termasuk pengangguran dan persoalan  rumit dalam waktu panjang dengan keluarga atau teman.

Tapi, jangan terlalu berkecil hati. Satu fakta penting yang sering terlewatkan dalam penelitian adalah bahwa, sekalipun virus dimasukkan ke dalam hidung, Anda belum tentu sakit.

Faktanya, sebanyak sepertiga dari peserta tahan terhadap virus yang diketahui membuat kita sakit parah termasuk virus flu, bahkan Virus Corona.

Lantas, siapa sajakah orang-orang yang cenderung tidak sakit ini?

Dalam artikel baru-baru ini, Cohen menjelaskan bahwa, meskipun Virus Corona belum dipelajari sebanyak gangguan kesehatan pilek dan flu, ada alasan untuk percaya bahwa beberapa faktor pelindung yang sama akan relevan untuk tingkat keparahan infeksi Virus Corona atau resistensi terhadapnya.

Faktor pelindung terbesar adalah termasuk merasa memiliki hubungan sosial dan dapat dukungan dari orang dekat, selain mendapatkan setidaknya tujuh jam tidur setiap malam.

Penelitian selama bertahun-tahun juga menunjukkan berulang kali bahwa faktor-faktor seperti stres yang lebih rendah dan tingkat emosi positif yang lebih tinggi juga merupakan kunci untuk terlindung dari penyakit.

2 dari 3 halaman

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

stres Covid-19
Editor : Nancy Junita
Bagikan

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top