Buah-buahan mengandung nutrisi yang baik bagi tubuh/Boldsky
Health

Apakah Buah Kehilangan Nilai Gizinya Jika Warnanya Mulai Kecokelatan?

Intan Riskina Ichsan
Intan Riskina Ichsan
Kamis, 28 April 2022 - 20:27
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Buah adalah camilan sehat dan lezat yang bisa dimakan kapan saja sepanjang hari. Ini dapat melengkapi sarapan yang lezat, dimakan sebagai camilan tengah hari, atau bahkan digunakan sebagai alternatif makanan penutup yang lebih sehat.

Dilansir dari Health Digest, setelah buah dipetik dan dipotong, kerap kali buahnya mulai rusak dan hanya ada waktu tertentu sebelum buah matang tersebut menjadi terlalu matang dan busuk.

Dalam beberapa kasus buah-buahan tertentu, seperti apel, bahkan bisa mulai berubah warna menjadi coklat segera setelah diiris atau dicincang. Ini disebabkan oleh proses yang dikenal sebagai oksidasi, dan itu terjadi ketika buah terkena oksigen.

Meskipun ini tidak berarti bahwa buahnya langsung busuk, ini mempercepat proses penuaan, memperpendek jendela kesegaran. Akibatnya, buah biasanya hanya bertahan beberapa hari setelah terkena oksigen dan berubah warna menjadi coklat. Secara umum, buah harus dimakan dalam waktu 3 hari setelah dipetik atau dibeli, tetapi bisa bertahan hingga 5 hari di lemari es.

Kandungan Nutrisi Buah Berubah Seiring Waktu

Karena oksidasi dapat mempercepat proses penuaan buah, apakah dapat juga menyebabkan buah kehilangan nilai gizinya? Ternyata, jawabannya adalah ya. Buah-buahan memiliki nilai gizi yang cukup tinggi, tetapi kandungan gizinya berubah setelah dipanen.

Pencoklatan dan pelunakan buah karena oksidasi adalah tanda bahwa mereka telah kehilangan sebagian kandungan nutrisinya. Namun, ini terjadi perlahan seiring waktu dan tidak mungkin memiliki efek signifikan pada nilai gizi keseluruhan dari sebagian besar buah.

Oksidasi bukanlah satu-satunya proses yang dapat menyebabkan buah kehilangan nutrisi. Percaya atau tidak, pernapasan juga bisa memiliki efek yang sama. Respirasi adalah proses yang terjadi pada tumbuhan untuk membantu memecah bahan organik, seperti karbohidrat dan protein, dan mengubahnya menjadi energi panas.

Hal ini dapat menyebabkan hilangnya rasa dan nutrisi, terutama jika produk disimpan di lingkungan yang hangat dan kering. Akibatnya, buah yang tidak ditanam secara lokal cenderung kurang bergizi dibandingkan buah yang ditanam dan dipanen di pertanian terdekat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Rekomendasi Kami