Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pertahankan Karakteristik Agar Bisnis Busana Muslim Bisa Berkelanjutan

Sebagai salah satu penduduk dengan jumlah muslim terbanyak di dunia menjadikan Indonesia berpeluang menjadi kiblat fesyen muslim. Hal itu mendorong besarnya peluang pasar, namun seiring dengan itu, kompetisi dalam bisnis fesyen muslim pun bakal semakin ketat.
Eva Rianti
Eva Rianti - Bisnis.com 19 April 2019  |  17:05 WIB
 Dian Pelangi, Jenahara, Restu Anggraini, Vivi Zubedi, dan Zaskia Sungkar saat akan berangkat ke London Fashion Week 2016 - Bisnis.com/Deliana Pradhita Sari
Dian Pelangi, Jenahara, Restu Anggraini, Vivi Zubedi, dan Zaskia Sungkar saat akan berangkat ke London Fashion Week 2016 - Bisnis.com/Deliana Pradhita Sari

Bisnis.com, JAKARTA – Sebagai salah satu penduduk dengan jumlah muslim terbanyak di dunia menjadikan Indonesia berpeluang menjadi kiblat fesyen muslim.

Hal itu mendorong besarnya peluang pasar, namun seiring dengan itu, kompetisi dalam bisnis fesyen muslim pun bakal semakin ketat.

Desainer Vivi Zubedi meyakini bahwa Indonesia saat ini telah menjadi perhatian dunia perihal industri fesyen muslim. Perkembangan modest fesyen di Indonesia dinilai berkembang sangat cepat dan makin kompetitif.

Dalam menghadapi persaingan di industri fesyen muslim, desainer yang sempat melenggang di panggung New York Fashion Week sebanyak tiga kali ini menyarankan agar para talenta di bidang modest fesyen bisa memiliki karakteristik masing-masing dari karya yang dilahirkan serta bisa mempertahankan karakteristik tersebut.   

“Yang harus dipegang menurut saya untuk sustainable adalah karakteristik. Temukan ide dengan keunikan sendiri. Sebab pasar beragam, harus punya selling point agar tidak mati,” ujarnya ketika ditemui di sela-sela acara peresmian Halal Park di Gelora Bung Karno, Jakarta, baru-baru ini.

Dia mengungkapkan, sesama pelaku kreatif industri fesyen muslim sebaiknya tidak saling membunuh dengan cara sekedar mengikuti karya yang tengah tenar atau hits di pasar namun menurunkan kualitas. 

“Masalah yang sering terjadi, jika suatu tren dinaikin, terus besok ada yang mengikuti tren tersebut dan menjualnya dengan harga murah, tapi kualitas diturunkan. Ketika itu dilakukan, otomatis membunuh pasar yang ada. Hal seperti ini perlu diperbaiki. Jangan ambil karakteristik brand lain agar sustainable,” lanjutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

fesyen busana muslim
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top