Menahan Laju Penyakit Tak Menular

Belum selesai penanganan masalah penyakit menular, masyarakat dihantui dengan kurang terkendalinya penyakit tidak menular atau PTM. Prevalensi penyakit yang disebabkan oleh perilaku alias gaya hidup ini bertambah dari tahun ke tahun.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 30 Juni 2019  |  09:05 WIB
Menahan Laju Penyakit Tak Menular
Ilustrasi - Hipvie

Bisnis.com, JAKARTA – Transisi dalam segala bidang telah memengaruhi kesehatan masyarakat. Perkembangan teknologi, perbaikan ekonomi, dan perkembangan sosial mendorong perubahan pola serta gaya hidup sehingga berdampak pula pada potensi berkembangnya penyakit tidak menular.

Belum selesai penanganan masalah penyakit menular, masyarakat dihantui dengan kurang terkendalinya penyakit tidak menular atau PTM. Prevalensi penyakit yang disebabkan oleh perilaku alias gaya hidup ini bertambah dari tahun ke tahun.

Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan telah terjadi peningkatan penyakit tidak menular dalam 5 tahun terakhir. Dibandingkan dengan riset terakhir pada 2013, prevalensi strok naik dari 1,8% menjadi 3,8%. Angka kejadian diabetes melitus naik dari 6,9% menjadi 8,5%. Sementara itu, kasus hipertensi meningkat dari 25,8% menjadi 34,1%.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), pada 2030 diprediksi akan ada 52 juta jiwa mengalami kematian per tahun karena penyakit tidak menular, naik 9 juta jiwa dari 38 juta jiwa pada saat ini.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Cut Putri Arianie mengatakan bahwa PTM biasanya membuat banyak orang kehilangan produktivitasnya. “Bukan saja pasien, orang yang merawatnya juga kehilangan hari produktifnya,” ujarnya.

Penyebab strok, diabetes melitus, hipertensi, gagal ginjal, dan penyakit gaya hidup lainnya sebetulnya hampir sama. Faktor risikonya adalah kombinasi dari perilaku hidup yang tidak sehat seperti merokok, obesitas, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, konsumsi alkohol, kurangnya aktivitas fisik, dan pola makan tidak sehat.

“Padahal, untuk penyakit tidak menular, lebih mudah untuk mencegah faktor risikonya dibandingkan dengan pengobatannya. Kalau sudah mengalami penyakit, seumur hidup harus diobati,” lanjutnya.

Dia menekankan, pencegahan faktor risiko harus segera dilakukan dengan perubahan perilaku hidup yang revolusioner. Tak perlu bermuluk-muluk, perubahan perilaku hidup sehat dapat dimulai dengan mengikuti anjuran Kemenkes melalui program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

Guru Besar Biokimia Institut Pertanian Bogor (IPB) Maggy Thenawidjaja Suhartono mengungkapkan bahwa gerakan atau komunitas masyarakat memberikan sumbangan yang berarti. Misalnya, gerakan jantung sehat, kembali ke alam, cegah kanker serviks, ataupun gerakan rendah gula dan garam.

“Gerakan ini memerlukan waktu yang panjang dan partisipasi banyak orang. Semakin banyak sel-sel yang membantu dengan aktivitas masing-masing tentu akan semakin baik,” katanya.

Dokter spesialis penyakit dalam Dyah Purnamasari Sulistianingsih dari RS Cipto Mangunkusumo Jakarta mengatakan bahwa perilaku hidup sedentari yang ditandainya dengan kurangnya aktivitas fisik harus diperbaiki.

Aktivitas masyarakat yang dominan duduk di ruang kantor maupun mobil, pekerjaan rumah tangga yang makin mudah, dan layanan antar makanan sebetulnya meningkatkan perilaku sedentari.

“Seseorang perlu beraktivitas fisik untuk meningkatkan kebugaran, sekaligus juga memperkuat otot dan tulang, serta mencegah kelebihan berat badan,” ujanya. Seseorang dianjurkan untuk memiliki aktivitas fisik setidaknya 30 menit dalam sehari.

Dyah menyoroti soal pola makan masyarakat yang kurang sehat khususnya dalam asupan gizi. “Konsumsi sayur atau sumber serat masih sangat minim, dan kondisi ini memburuk dibandingkan 5—10 tahun lalu,” ujarnya. Seharusnya, kebutuhan serat dari sayur harus dipenuhi setidaknya 3-4 porsi dan buah 2-3 porsi per hari, sesuai pola makan diet seimbang.

Kenyataan yang ironis, karena buah dan sayur sebetulnya cukup banyak di Indonesia. Sebagian masyarakat tidak membeli sayur dan buah secara rutin. Alasan lain kurangnya konsumsi sayur dan buah adalah sibuk bekerja.

Banyak orang yang merasa memasak sayur di rumah justru memerlukan waktu yang lama sehingga memilih untuk makan makanan yang cepat saji.

Dokter spesialis gizi klinik Cindiawaty Josito Pudjiadi dari RS Medistra Jakarta mengatakan, pola makan sehat perlu disosialisasikan dengan jelas kepada masyarakat.

“Jenisnya harus bervariasi memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral, serta sebaiknya dimasak hanya dengan ditim, dikukus, direbus, dan ditumis,” katanya. Pengolahan makanan sebaiknya menghindari proses menggoreng dan membakar makanan.

Masyarakat juga dapat mengikuti pola 5-2-1-0 untuk memulai gerakan hidup sehat, yakni 5 porsi atau lebih buah setiap hari, 2 jam atau kurang untuk penggunaan gawai, 1 jam atau lebih untuk aktivitas fisik, dan 0 minuman bersoda atau minuman manis. Hal ini dapat mengurangi risiko penyakit tidak menular.

PENTINGNYA PERIKSA

Tidak semua penyakit tidak menular memiliki gejala di fase dini. Biasanya pasien baru berobat saat timbul keluhan atau bahkan saat sudah terjadi komplikasi. Sebelum terjadi penyakit, pemeriksaan kesehatan secara rutin sejak dini perlu dilakukan.

“Apalagi sekarang kejadian komplikasi penyakit metabolik dan pembuluh darah itu mengalami pergeseran usia, makin banyak penderita berusia muda di bawah 40 tahun,” katanya.

Masyarakat sebaiknya jangan takut memeriksakan kesehatan secara berkala. Hal ini justru penting untuk menjaring fase awal penyakit, dan mencegah perburukannya di kemudian hari. “Rutinlah untuk melakukan timbang berat badan agar diketahui kelebihan berat badan atau tidak, selain itu rutinlah untuk mengecek lingkar perut untuk mengontrol risiko diabetes, strok, dan penyakit lainnya.”

Selain periksa di pelayanan kesehatan terdekat, pemeriksaan kesehatan berbasis masyarakat dapat dilakukan di Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) yang terdapat di berbagai wilayah di Indonesia.

Dengan periksa kesehatan rutin setidaknya 6 bulan sekali, penemuan dini faktor risiko penyakit dapat membantu masyarakat untuk mengidentifikasi dan memodifikasi perilaku yang berisiko memicu penyakit.

Gerakan aktivitas fisik, pola makan sehat, dan periksa kesehatan secara berkala menjadi sebagian faktor risiko penyakit tidak menular lebih bisa diatasi. Bersamaan dengan itu, dapat pula memulai pola hidup sehat lainnya dengan meninggalkan rokok, alkohol, dan kebiasaan tak sehat lainnya.

Program Germas membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Cut Putri mengatakan bahwa gerakan ini adalah pekerjaan multisektor di mana semua pihak harus melangkah bersama menuju Indonesia sehat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
penyakit, penyakit jantung

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top